Amazon.com Widgets

July 6, 2008

Pelukan Ayah

Oleh :  Alimuddin

Bunda, tidak ada perang lagi. Perang sudah usai. Ayah Nur sudah pulang, Bunda. Cut juga sudah bisa memeluk tubuh gagah ayahnya. Dek Nong bahkan berkeliling kampung sambil berteriak girang bahwa ayahnya sudah pulang.

Tapi, mengapa ayah Dinda belum pulang, Bunda? Ayah Dinda di mana, Bunda?
Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?

Bunda seolah tidak miliki jawaban lain untuk pertanyaan putrinya itu. Pertanyaan yang menyayat hati dan pikirannya. Seperti pisau yang membelah-belah dagingnya.

"Di mana ayah, Bunda?"
Dan, Bunda hanya bisa menjawab dengan lidah layu, "Ayah Dinda pergi mencari rezeki. Suatu hari pasti kembali." Perasaannya dia bujuk untuk tidak meledak di hadapan putrinya. bibirnya dia paksa untuk tetap tersenyum.

Bunda menemukan cahaya mata putrinya tenggelam semacam sepotong petang yang karam di dasar laut. Mata itu dia tahu penuh rindu.

"Dinda ingin sekali dipeluk ayah, Bunda. Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"

Danau mata Bunda telah hancur berkeping-keping. Hatinya pun telah menjadi ranting kayu paling kering. Dan, dia peluk putrinya dengan tangisan luka. Bunda dan anaknya saling berpelukan. Detik seperti berhenti bekerja. Keheningan menjadi begitu menyiksa.

Dinda hanya ingin satu: ayahnya pulang. Tidak perlu ayah setampan ayah Dek Nong. Tidak usah ayah yang miliki uang banyak. Untuk hatinya, ayahnya pulang sudah cukup. Dan, kebahagiaan itu, baginya, bagai tangan mungilnya yang baru saja memeluk dunia.

"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"

Bunda tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Padahal tanya itu sering diulang-ulang putrinya. Dinda tak tahu apa yang yang tengah dipikirkan bundanya ketika dia tanyakan itu. Mungkin itu pertanyaan berat hingga Bunda sulit untuk menjawabnya.

Ketika ayah kawannya yang paling karib, Nur, pulang, dengan sejuta harap di dadanya, Dinda menarik lengan Nur. Mereka menjauh hingga ke bawah meunasah. Mereka menyepi seolah pembicaraan itu hanya untuk mereka berdua.

Dinda yakin sekali Nur tak akan menolak permintaannya. "Nur, boleh aku memeluk ayahmu?" tanya Dinda dengan gemetar.

Dan, Dinda takkan lupa mata Nur yang melotot ke arahnya. Mata yang, dia tahu sekali, hanya Nur berikan untuk si Agam — anak paling bandel di kampung yang sering mengganggu main mereka.

Tapi, Nur adalah sahabat terbaik yang Dinda miliki. Dinda tak paham mengapa Nur bersikap begitu.
"Nggak boleh. Dinda nggak boleh peluk ayahku. Itu ayahku! Bukan ayah Dinda!" kata Nur.

"Sekali saja, Nur…," kata Dinda dengan mata bercahaya. Seolah sengaja dia penjarakan bebintang di dalamnya.
"Nggak boleh! Itu ayahku. Bukan ayah Dinda!"
Jalan di depan meunasah riuh oleh suara anak-anak sebaya mereka yang girang berlarian.

"Tapi, Dinda ini kawanmu, Nur…."

Nur kini menatap dengan bola mata yang menyimpan kemarahan.
"Nur benci Dinda…. Benci!"
Dan, Dinda tidak ingin mengejar Nur yang berlari menjauhinya. Hatinya telah menyempit. Lorong-lorong matanya telah sesak dengan air yang hendak keluar.

Dinda membawa jauh langkah kakinya dari bawah meunasah yang berpilar-pilar. Bau kuah pliek masih mengurung hidungnya. Dengan mata kabur dia pandangi baju-baju yang dijemur di pagar besi meunasah. Dia tatap langit luas. Siang tidak menyengat. Tapi, hatinya serasa tersengat.
"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"
Dinda tahu bundanya tidak akan menjawab. Diapun bertanya pada angin, bagai hendak menangkap ikan di udara. Dan, bahu Dinda berguncang-guncang.

Sang ayah pergi suatu hari. Meninggalkan tanah sendiri dan menuju kampung lain, tanah seberang yang dijarakkan samudera yag bergelombang-gelombang.

Baginya, mencari rezeki di kampung sendiri mempertaruhkan nyawa. Di tanah seberang, mencari rezeki tidak dihantui ketakutan. Ia akan kembali satu hari, ketika perang di negerinya telah selesai, dan bedil tidak lagi haus darah.
Tapi, itu hanya cerita yang dipintal Bunda untuk putrinya, Dinda. Cerita sebenarnya, hanya tersimpan di dalam kenangan pahitnya.

"Di mana ayah, Bunda?"
"Ayahmu mencari rejeki, Dinda. Ketika perang telah usai, ayahmu akan kembali." Lidah Bunda pincang berucap. "Ia akan kembali bersama kita, Sayang."

"Tapi tidak ada perang lagi, Bunda. Kenapa ayah belum pulang juga?"
Perang memang telah usai. Maka sang ibu pun mengubah jawaban itu. "Ayah akan pulang suatu hari nanti, Dinda."

"Bagaimana rasanya dipeluk ayah, Bunda?"
Seluruh diri Bunda serasa lumpuh oleh pertanyaan itu. Dia hanya bisa diam. Bisa saja Bunda menjawab, "Hangat, Dinda. Dipeluk ayah itu hangat, Dinda." Tapi Bunda tidak siap dengan pertanyaan mematikan Dinda berikutnya. "Dinda ingin dipeluk ayah, Bunda." Karena, Bunda tak ingin hatinya lebur menjadi debu.

Dinda tak tahu mengapa, tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang. Pohon pisang dimatanya seakan bisa berjalan. Pohon jambu berlari-lari seolah ingin menerkamnya dengan gaya harimau kelaparan. Dia lari terbirit-birit, lalu muntah-muntah sesampai di rumah.

Bunda menanyainya dengan perasaan khawatir. Dinda hanya bisa menggeleng dan mengangguk saja. Dia merasa rohnya tengah ditarik-tarik, lantas pingsan. Bunda membaringkannya di tempat tidur, menyelimutinya dengan air mata berderai-derai.
Hingga tengah malam tiba, Dinda belum sadar. Mulutnya mengigau, "Ayah… ayah….."
Bunda diserang gamang yang membadai. Dia tidak punya pilihan selain mencari kertas berisi alamat pria itu. Tapi, dia tidak menemukan kertas keramat itu di dalam almari pakaian lagi. Dia mengutuki kebodohan masa silam, sebab menolak lelaki baik hati itu. Akhirnya 'kertas sakti' itu pun ditemukannya di bawah tempat tidurnya.

Bunda berlutut di hadapan putrinya ketika akan pergi. Wajah Dinda tidak girang. Hanya pucat yang merona pada parasnya. Bunda terisak, dan menyeka air matanya sendiri.

Lalu Bunda kenakan pakaian terbaik yang dia miliki. bibirnya dipoles merah menyala. Sebuah angkutan umum lantas membawanya ke suatu tempat, setelah menitipkan Dinda pada salah satu tetangga baiknya.

Tak lama Bunda pun pulang, dengan mengapit lengan seorang pria tampan. Sikapnya manja. Tapi cahaya matanya memancarkan kecemasan. Berkali-kali dia berbisik di telinga lelaki tampan tu. Mata tetangga pun menatapnya heran. Tapi, Bunda tak acuh saja. Yang ada di pikirannya, bagaimana kembali menemukan senyum di bibir Dinda esok hari.
"Dipeluk ayah hangat, Bunda…, hangat, Bunda."
Danau mata Bunda tenggelam, tapi kali ini sebab sejuta rasa bahagia.

Tahun-tahun timbul tenggelam. Dinda makin tahu bagaimana rasanya dipeluk ayah. Hangat. Tapi, pada suatu tengah malam hening, matanya tak bisa terpejam. Pembicaraan orang-orang kampung siang tadi telah merusak selera tidurnya. Maka Dinda ke sumur untuk mengambil air wudu. Lalu dia ucapkan doa untuk Tuhannya.
"Tuhan, bawa pulang ayah Dinda yang sebenarnya. Dinda mohon, Tuhan. Dinda ingin dipeluk ayah…."

Dari celah daun pintu kamarnya, Bunda hanya dapat menatap putrinya yang sedang berdoa sambil terisak, lalu dia menyeka air matanya sendiri dengan tangan gemetar. Luka masa lalu itu kembali menganga, memedihkan hatinya.

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

July 3, 2008

Puntung Cinta

Oleh : Restoe Prawironegoro Ibrahim

Bunga nusa indah berguguran ditiup angin. Daunnya yang telah berwarna kuning ikut berguguran mengotori taman yang baru saja dibersihkan. Aku duduk di bangku taman memandang sekitarku. Hmmm, masih seperti dulu, dua tahun yang lalu ketika aku dan si mata teduh masih bersatu.

Kulihat seorang gadis bergayut manja di lengan seorang cowok gagah. Mungkin pacarnya. Entah, apa yang dibisikkan cowok itu di telinga gadisnya, tiba-tiba saja gadis itu mencubitnya dengan manja. O, aku seperti melihat sebuah film di mana aku dan si mata teduh menjadi pemainnya. Aku berjalan cepat meninggalkan taman untuk melupakan kejadian di masa lalu. Kulirik jam tanganku, masih siang. Lebih baik ke perpustakaan, mumpung ada uang. Menambah koleksi buku-bukuku..

Ah! Lagi-lagi tidak berubah. Masih ada sebuah bangku di sudut ruangan. Dulu di mata teduh suka menggodaku kalau aku mulai kelihatan serius membaca buku. Aku tidak jadi masuk. Berbalik pergi. Baru lima langkah, hujan turun deras tanpa didahului rintik-rintik. Aku berlari, berteduh di sebuah toko cassette. Huh! Benar-benar menyebalkan. Kenapa lagu-lagu lama yang diperdengarkan. Brengsek. Kenapa setiap sudut selalu berusaha membuka kenangan lama. Padahal aku ingin menguburnya. Apakah mungkin karena aku mencintainya? Tidak! Aku tidak mencintainya. Bahkan aku teramat benci kepadanya. Kepada Topan, si mata teduh yang telah menghancurkan cintaku yang sedang tumbuh subur..

Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh. Rubiah! "Nur ya? Kurus sekali kamu, Nur. Kenapa. Ke mana saja selama ini? Ke luar negeri ya? Aduh pantasan, badanmu bau keju." Aku tersenyum. Manusia satu ini kalau bicara terlalu cepat. "Oya, masih ingat Topan? Dia sekarang sudah menikah dengan Rani, sahabatmu. Malahan anaknya yang pertama diberi nama sama dengan namamu: Nurizah. Nah, bagaimana dengan kamu, Nur? Berapa anakmu?" Aku tertawa. Sumbang..

"Anakku sepuluh. Mereka lucu-lucu dan manis-manis. Baru sebulan yang lalu mereka dilahirkan." "Brengsek. Itu pasti kucing-kucingmu!" sungut Rubiah kesal. Tidak lama kemudian Rubiah pamit untuk pulang lebih dulu. Setelah hujan berhenti, aku berjalan sambil berpikir, mau keliling atau pulang, sebab besok aku harus kembali ke Yogya, tempatku belajar..

Sebuah bis lewat, aku melompat naik. Bau tujuh rupa bertebaran menyesakkan pernapasanku sehingga aku terbatuk. Di sampingku, seorang cowok mematikan api rokoknya. Melirikku sekilas. Aku pura-pura tidak melihat, walaupun sebenarnya aku melihat melalui ekor mataku. Hei, wajah itu…. kenapa mirip Topan? Apakah Tuhan banyak menciptakan makhluk serupa?.

Dengan tergesa aku turun. Hari ini banyak peristiwa yang mengingatkanku pada Topan. Herannya, langkahku juga mendukung timbulnya kenangan lama. Lihat saja, tidak terasa, aku sudah sampai di tepi pantai. Aku duduk di bebatuan. Sendirian. Rasa sepi kadang menyenangkan tapi kadang menyakitkan. Dan, membuat kenangan lama kembali berputar. Mulanya, aku memang tidak mencintai Topan. Aku masih ingin bebas tanpa terikat oleh apapun dengan siapapun. .

Tapi Topan terlalu baik untuk dikecewakan. Saat aku butuh pertolongan, dia datang menawarkan diri. Dan, akhirnya aku tahu, aku membutuhkan dia. Ini berarti aku mulai belajar mencintai Topan. Ketika cintaku mulai tumbuh subur, Topan berpaling. Mungkin aku tidak begitu kecewa kalau seandainya gadis itu bukan Rani, sahabatku..

Aku berjalan telanjang kaki di atas pasir pantai. Sepatu sandal kujinjing. Menyenangkan sekali berjalan seperti ini. Apalagi kalau ombak datang. Air laut membasahi seluruh kaki-kakiku. Satu dua laki-laki bersiul menggoda. Memanggil namaku dengan panggilan Linda, Lina, Sri, Dewi, Yanti dan banyak lagi. Aku sama sekali tidak peduli. Bahkan aku makin asyik menggores-gores pasir dengan tulisan-tulisan yang kemudian hilang di sapu air..

"Irma!" Sebuah suara memanggilku. Pelan. Seolah takut mengejutkanku. Irma? Hanya satu orang yang memanggilku Irma. Topan! Panggilan kesayangan, katanya selalu. Tapi, mungkinkah? Kutegakkan kepalaku dengan ragu. Oh, my God! Benar dia!
Topan berjongkok di hadapanku.
"Masih boleh aku mengajakmu makan?
Sekali ini saja. Banyak yang ingin kukatakan padamu," pintanya penuh harap.
Aku tersenyum.
"Lagi kaya, ho? Padahal ini tanggal tua, bung," ujarku hangat.
"Buat Irma tak ada tanggal tua," jawabnya senang melihat sambutanku yang hangat.
Topan mengajakku ke rumah makan Sari Padang langganan kami dulu.
Dipesannya makanan kesukaanku, nasi goreng istimewa dengan juice jeruk. Saat makanan itu dihidangkan, tanpa malu aku langsung menyerbunya. "Sorry, Pan, aku lapar berat nih."
Topan tidak menjawab. Dia hanya memandang ulahku yang mungkin nampak rakus.
Kulihat piring Topan masih penuh.
"Hai, mau makan atau melamun?" tanyaku riang.
"Kamu kurus sekali Ir. Tapi kelihatannya kamu tambah dewasa dan tambah cantik," katanya sambil memandangku lekat-lekat.
"Buang saja pujianmu ke tong sampah. Aku tidak butuh," sahutku ketus.
Topan tersenyum. Amboi, senyumnya masih memikat.
"Irma, apa yang kamu lakukan di pantai?"
"Aku merindukanmu."
Keningku berkerut. Sebelum mulutku membuka suara, dengan cepat Topan mencegahnya.
"Jangan protes dulu. Aku belum selesai bicara. Kamu selalu begitu, tidak pernah memberikan kesempatan padaku untuk menceritakan hal yang sebenarnya," gerutunya kesal.
"Tidak perlu kamu cerita, aku sudah tahu," kataku dengan nada tinggi. "Apa yang kamu tahu, semua salah!" balasnya sengit.
"Salah? Apa pendengaranku salah, kalau kamu pacaran dengan Rani, kemudian menikah dan punya anak!" jawabku tak mau kalah.
Topan terkejut.
Aku tersenyum, mengejek.
"Aku mau pulang."
"Aku belum selesai bicara, Ir," selanya. "Boleh aku merokok?" sambungnya.
Kali ini dengan nada pelan.
Aku mengangguk. Topan menyulutkan rokoknya, menghisapnya dan menghembuskannya perlahan-lahan membentuk bulatan-bulatan. "Sebenarnya waktu itu tidak ada hubungan apa-apa dengan Rani. Aku hanya ingin membuatmu cemburu. Karena aku telah lelah mengejar cinta kamu.

Tapi, nyatanya kamu hanya menganggapku tidak lebih dari seorang kakak yang baik. Aku kecewa. Lalu, ketika aku tahu kamu mencemburui Rani. Aku bersorak girang. Rencanaku, keesokan harinya aku mau membuka kartu matiku padamu. Tapi aku kecewa untuk yang kedua kalinya. Kamu pergi. Entah kemana, semua orang yang ada di rumahmu tutup mulut. Aku seperti orang gila memikirkanmu. Hanya Rani yang mengerti hatiku, menghiburku. Dan seperti yang kamu tahu juga, aku menikah dengan Rani," cerita Topan panjang.

Aku menunduk. Menggigit bibirku kuat-kuat.
"Sudahlah, Topan. Maafkan aku, lupakan aku. Anak dan istrimulah yang patut kamu cintai. Anggap saja, tidak ada kisah cinta antara aku dan kamu. Juga pertemuan kita ini, anggap pula mimpi di siang hari."
"Cinta tidak dapat dipaksakan, Ir. Apakah aku salah kalau aku masih mencintaimu?"
"Memang tidak. Tapi belajarlah untuk mencintai istrimu. Bukankah kamu sekarang sudah mempunyai anak? Kelak anakmulah yang akan memperat hubungan cinta kasih antara kamu dan istrimu. Nah, Topan. Selamat sore," kataku mencoba untuk memberi pengertian pada Topan.

Kutinggalkan Topan yang masih termangu.
"Irma…, tunggu!"
Aku pura-pura tuli. Dengan langkah panjang, aku membuka pintu mobil taksi yang memang sedang diparkir menunggu penumpang. Taksi cepat meleset jauh dari pandangan Topan yang masih berdiri di depan rumah makan Sari Padang.

Aku memandang lurus-lurus ke jalan raya sambil berusaha menentramkan hatiku yang galau. Topan, aku juga masih mencintaimu. Tapi itu tidak mungkin. Kita sudah jauh melangkah dengan pilihan sendiri-sendiri, kata batinku. Setetes air mataku jatuh. Kuusap perlahan-lahan.

Keputusanku sudah bulat, besok pagi aku harus pulang ke Yogya. Kota Jakarta tidak pernah ramah padaku. Biarlah satu atau dua tahun aku mencoba untuk menata diri agar tegar kembali seperti pohon cemara yang tetap berdiri tegak walau tiap saat ditiup angin.

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

July 2, 2008

Pulang

Oleh : Mustafa Ismail

Mata ibu berbinar ketika melepas Suman merantau. Ibu seperti hendak menangis, tapi mencoba sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah. Suman tahu, ibu sangat berat melepasnya pergi, karena ia anak satu-satunya. Sedang ayah telah lama tiada, ditemukan mati tertembak tanpa tahu siapa yang membunuhnya.

Habis mencium tangan ibu, Suman melompat cepat ke dalam bus jurusan Jakarta yang telah berhenti sejak tadi. Ia sebetulnya tidak tega meninggalkan ibu sendiri. Tapi apa boleh buat. Ia tidak bisa terus-menerus tinggal di kampung, luntang-lantung tidak punya pekerjaan. Orang-orang kerap mencibirnya: "Sarjana kok menganggur. Habis sekolah tinggi-tinggi, lalu pulang kampung."

Suman putar otak untuk dapat bekerja. Lebaran lalu, Hamid, keponakan ibunya yang tinggal di Jakarta dan membuka toko di sana, menawari Suman. "Kalau mau, kerja sama saya saja sementara, membantu di toko. Kalau buat makan ya cukuplah," kata Hamid.

Suman sempat berpikir: sarjana teknik kimia kok kerjanya jadi penjaga toko. Tapi ibu terus mendorong, memberi pandangan-pandangan, bahwa itu harus dilakoni untuk sementara sambil ia mencari jalan lain untuk bisa kerja di Jakarta sesuai dengan ijazahnya. "Ambil dulu akarnya, nanti baru cari rotannya," kata ibu mengutip pepatah tidak ada rotan, akar pun jadi.

Ia belum bisa mengambil kesimpulan ketika itu. Masih bimbang. Ia tidak percaya dengan kata-kata, "sementara kerja ini dulu, sambil mencari lain." Sebab, ia tahu tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Banyak temannya yang mencoba mengais nasib di sana, pada akhirnya pulang lagi. Lama ia berpikir, berbilang bulan. Akhirnya pun ia menuruti saran ibu, meski ia sendiri berat untuk itu. Itu satu bentuk penghormatan kepada ibu. Suman tidak ingin ibu kecewa. Kalau bukan ibu yang terus mendorongnya, ia akan dengan mudah menyatakan tidak. Sebab, bagaimana pun, ia lebih suka di Aceh. Ia sangat mencintai tanah lahirnya.

Tapi ia tahu, bukan melulu soal pekerjaan yang membuat ibu terus mendorongnya untuk pergi dari kampung. Juga karena kondisi kampung sendiri, yang makin tidak menentu. Konflik bertahun-tahun di sana tidak pernah selesai. Perundingan untuk menyelesaikan konflik berkali-kali dilakukan, tapi pertikaian terus terjadi. Banyak orang menjadi korban, salah seorang di antaranya adalah ayah. Namun ibu tidak mengatakan itu sebagai alasan meminta Suman menerima tawaran Hamid bekerja di tokonya.

Berbilang tahun, Suman tetap menjadi penjaga toko Hamid. Seperti pernah dikatakan Hamid dulu, kalau buat makan cukup, begitulah yang dirasakan Suman bertahun-tahun. Ia hanya mendapatkan jatah makan tiga kali sehari yang dimasak sendiri oleh isteri Hamid, sebungkus rokok yang diambil dari toko, plus uang Rp 10 ribu perhari. Tidak lebih.

Di sela-sela pekerjaannya, sudah berbagai lowongan kerja dicoba. Tapi tak satu pun yang menerimanya. Persoalan klise terulang kembali, pikirnya. Sejumlah temannya yang berangkat ke Jakarta, pada akhirnya pulang kembali karena tidak mendapatkan pekerjaan. Fakta itu semakin menguatkan bahwa tidak mudah mendapat pekerjaan di kota itu. Seperti temannya, ia pun ingin pulang.

Ia lalu menyurati ibu untuk minta izin pulang, lengkap dengan alasannya. Dua minggu kemudian, ia menerima balasan surat dari ibu. Kata-kata yang paling diingat dari surat itu adalah: Laki-laki jangan cengeng. Laki-laki jangan cepat menyerah. Kalau laki-laki cengeng dan cepat menyerah, bangsa ini sudah tamat. Negeri ini tidak pernah merdeka.

Tak ada satu kata pun yang berbunyi "jangan pulang" atau "sabar dulu" di surat itu. Tapi isi surat itu dengan tegas bisa dibaca ibu tidak setuju Suman pulang kampung. Suman tercenung dengan kata-kata ibu. Betul juga apa yang dikatakan ibu. Tapi, apakah sikap menerima keadaan itu sebuah kecengengan. Ia menerima keadaan ini dengan sadar: empat tahun ia berada di kota ini ia tidak mendapatkan apa-apa.

Berarti, ia mesti mundur dari kota ini. Mungkin mencari kota lain, yang mungkin bisa memberi sesuatu. Terus terang, Suman sebenarnya ingin membahagiakan ibu. Membahagiakan bukan cuma dalam arti menuruti segala saran dan keinginannya, juga membahagiakan dalam soal materi. Ia ingin membikin sebuah rumah paling bagus untuk ibu. Sebuah rumah dengan halaman luas, hijau dan menyenangkan. Tidak seperti rumah sekarang, yang dibangun ayah: kecil dan hanya berkamar dua, dengan tanah pas-pasan. Keinginan itu telah disimpan bertahun-tahun. Itu salah satu bentuk terima kasihnya pada ibu, juga pada ayah sebetulnya — tapi ayah sudah duluan meninggalkan mereka. Nah, untuk ayah, ia juga ingin membuat makam paling bagus, dengan marmer spesial, dan dikerjakan oleh tukang spesialis pembuat rumah makam. Tapi bagaimana ia bisa mewujudkan keinginan-keinginan itu bila tidak punya pekerjaan bagus.

Suman pulang. Bukan ke kampung, tapi ke kota tempatnya kuliah dulu. Itu tanpa sepengetahuan ibu, yang sudah tentu tanpa seizin ibu. Keputusan itu diambil setelah lama direnungkan. Tambah lagi, beberapa minggu lalu, ia bertemu dengan seorang kawan sesama aktivis ketika kuliah dulu, yang sekarang memimpin sebuah perusahaan di kota tempatnya kuliah dulu itu. "Dari pada kau jadi penjaga toko, mendingan kau bantu-bantu aku di Aceh. Aku perlu orang untuk pemasaran. Kau kan sarjana ekonomi. Soal pendapatan, jangan khawatirlah. Untuk makan pasti banyak lebihnya," kata kawan itu.

"Aku belum punya pengalaman mengurus pemasaran."
"Tidak perlu pengalaman. Semua pekerjaan kan proses belajar. Aku yakin kau pasti bisa."
"Oke, beri aku waktu berpikir barang seminggu."
"Ya, jangan lama-lama. Soalnya banyak pekerjaanku menumpuk. Kalau kau tidak bisa, aku segera cari orang lain."

Tidak tahu bagaimana perasaan ibu jika tahu ia sudah berada di Aceh. Mungkin ibu akan marah, mungkin ibu akan diam saja, atau mungkin ibu akan mendampratnya dengan kata-kata: laki-laki cengeng, cepat menyerah. Negeri ini akan segera tamat bila semua lelaki cengeng sepertimu. Negeri ini tidak pernah merdeka.

Suman telah siap, apa pun sikap ibu, begitu mengetahui bahwa ia sudah berada di kota yang sangat akrab dengannya. Kota yang banyak menyimpan kenangan: suka-dukanya waktu kuliah, kehangatan teman-teman, dan sikap manja seorang gadis yang sudah lama dia tinggalkan dan tidak pernah lagi memberi kabar.

Ia sempat mencari gadis itu ke rumahnya di Uleelheue, kampung yang tak jauh dari bibir pantai, tapi ia sedang pergi ke Medan tempat pamannya. Gadis bernama Cut Rina itu, kata ibunya bekerja di sebuah bank swasta, dan sekarang sedang cuti. "Hari Minggu besok, Cut sudah pulang. Minggu sore saja Nak Suman ke sini lagi," kata Umi, panggilannya kepada ibu Cut. Hari Minggu, masih lima hari lagi.

Pasti Cut terkejut mendapatkan Suman tiba-tiba muncul kembali. Setelah itu, boleh jadi, ia akan bersikap biasa-biasa saja, marah-marah karena ditinggal tanpa kabar, bisa pula bersikap dingin karena dalam hatinya sudah ada orang lain. Suman siap dengan semua kemungkinan. Meski, ia masih sangat mengharapkannya. Cut tidak tergantikan dalam hatinya.

Suman ingin melompat saja melihat angka gajinya dalam kontrak kerja di perusahaan yang dipimpin temannya itu, yakni Rp 3,7 juta. "Ini gajimu pertama. Tahun depan akan kunaikkan lagi. Dan kalau melebihi target penjualan kita, kau bisa dapat bonus," kata teman itu.

Ia mengangguk. Bersyukur. Gembira.
Pasti ibu akan senang mendengar kabar ini. Tapi, belum saatnya memberi tahu ibu sekarang. Ia ingin bekerja dulu barang setahun, menabung pelan-pelan. Setelah uang terkumpul agak banyak, ia akan pulang kampung untuk beli tanah tempat membangun rumah buat ibu. Agar ibu tentram menghabiskan hari tuanya. Rumah paling bagus, dengan halaman luas. Di halaman itulah nanti, pesta pernikahannya akan digelar.

Pada saatnya Suman akan menikah. Ia berharap dengan Cut. Tapi ia tidak terlalu memikirkan itu sekarang. Yang ia bayangkan adalah kebahagiaan yang terpancar dari wajah ibu.

Tak lupa, ia juga akan membuat rumah makam ayah, dilapisi marmer khusus dan dikerjakan tukang khusus pula, sebagai tanda bakti kepada ayah.

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

July 1, 2008

Langit Masih Biru

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Langit memantulkan paras yang anggun, ketika iring-iringan pengantin yang membawamu, sampai di pintu rumahku. Seperti dua gumpalan mega yang menyatu di langit, aku dan kau bertemu di pelaminan, mengikat janji sebagai sepasang suami isteri.

Akad nikah kita berlangsung khidmat, dilanjutkan ritual tepung tawar. Para kerabat dekat kita bergantian menepung tawari kita. Saling menebar doa dan restu untuk sebuah babak kehidupan baru, yang akan kita lakoni.

Adat Tapanuli Selatan pun menyusul. Kau yang berasal dari Jawa mendapat keluarga angkat di Medan. Kau diberi gelar atau marga, sesuai dengan marga ayah angkatmu. Di belakang namamu kemudian ada embel-embel marga.

Kita berdua diminta melakukan tortor di atas panggung, dengan gerakan yang luwes dan indah. Mulanya kau kurang merespon, tapi kukatakan padamu, bahwa acara adat tak pernah bisa diabaikan. Dan, kau pun mengerti.

Aku dan kau mengikuti semua acara di balik baju kebesaran. Semua orang bilang, kita cantik dan tampan sekali di atas pelaminan. Menjelma sebagai seorang raja dan ratu sehari.

Suamiku, saat cahaya bulan tampak merona di langit, kau menyentuh dan menciumku dengan sepenuh hatimu. Kau telah memberikan aku sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan dalam waktu sesingkat apapun dalam hidupku. Caramu memperlakukan aku, membuatku serasa melambung di langit ke tujuh. Aku tak pernah sebahagia saat itu.

Satu minggu kemudian, kau memboyongku ke rumah dinasmu. Satu hal yang tak pernah kubayangkan, harus pergi dari rumah ayah dan emak. Sepanjang usiaku, baru kali ini aku berpisah dari mereka. Tak dapat kucegah kesedihanku. Kau mengusap kepalaku, menghapus butir-butir air bening di pipiku.

"Sofiya sayang, sudahlah. Jangan menangis lagi. Kalau kau masih menangis, nanti orang mengira, kau tidak bahagia menikah dengan abang. Kepindahan kita ke Rantau Prapat bukan berarti berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Kalau ada kesempatan, kita akan berkunjung ke Medan. Kalau perlu, kita menginap beberapa hari di sana."

Kata-katamu terasa sejuk di sanubariku. Aku pun tak lagi memperpanjang tangisku. Aku benahi rumah kita, istana kita. Kini aku bukan lagi gadis remaja yang harus menunjukkan kemanjaan kepadamu. Aku harus menjalankan peranku sebagai seorang isteri. Sebuah peranan yang akan ikut menentukan perjalanan perkawinan kita.

Seperti pesan orang tuaku, aku harus pandai-pandai membawa diri. Aku harus tahu kewajiban dan tugasku. Aku tidak boleh banyak menuntut kepadamu. Perkawinan adalah dunia baru buatku dan aku tak akan menyia-nyiakannya.

Beberapa bulan berlalu, aku belum menagih janjimu untuk berkunjung ke Medan. Di samping kesibukanmu yang padat, ada hal lain yang mengurungkan niatku. Aku hamil! Aku ingin mengatakannya di depan ke dua orang tuaku, sambil memeluk mereka. Namun, aku harus bersabar, dengan hanya berbicara lewat telepon saja.

Hari-hari selanjutnya, tak lepas dari kemesraan kita. Hanya saja kesibukanmu sebagai seorang branch manager sebuah bank pemerintah, banyak menyita waktu. Terkadang kau pulang larut malam, karena harus bertemu klien. Atau karena menangani satu masalah. Kadang sepulang bekerja kau main bulutangkis dan olahraga lainnya. Tidak jarang kau juga menghadiri meeting di luar kota.

Suamiku, kau memang seorang pekerja yang ulet. Tak heran kau diangkat menjadi seorang kepala cabang. Dari semasa di bangku sekolah kau sudah rajin bekerja. Dari loper koran, penyemir sepatu sampai pelatih renang, pernah kau jalani. Kau juga sering memberi les privat dan berjualan kue.

Tak heran, saat ini pun kau mempunyai satu usaha sampingan selain pekerjaanmu. Kau banyak membutuhkan suntikan dana. Kau mengambilnya dari uang tabungan kita.

Kau jadi membatasi pengeluaran kita. Sikapmu membuatku heran. Entah kenapa kau tiba-tiba jadi pelit. Saat aku minta dibelikan sesuatu, kau bilang sedang mengumpulkan uang untuk membangun rumah ibu di kampung. Di hari yang lain, aku minta kau membelikan keperluan ayah dan emak di Medan, kau bilang kau harus mengirimkan uang untuk saudaramu yang sedang pailit.

Bagiku tak masalah, bila kau memperhatikan keluargamu di Jawa. Apalagi kau kini telah menjadi orang yang berhasil. Tentulah orang tua dan saudara-saudaramu juga ingin merasakan buah dari kesuksesanmu. Sebagai isteri, aku hanya minta kau berlaku adil. Itu pesan yang sering kusampaikan padamu dan kau menyetujuinya tanpa syarat.

Suamiku, betapa bahagianya aku saat melahirkan bayi kita dengan selamat. Kau menjemput ayah dan emak di stasiun kereta api Rantau Prapat. Aku memohon agar mereka tinggal lebih lama di rumah kita. Ibu dan bapakmu tidak bisa datang ke Medan, hanya mengucapkan selamat lewat telepon.

Suamiku, entah mengapa ayah dan emak tak bisa mengabulkan permohonanku. Mereka ingin cepat-cepat pulang ke Medan. Padahal baru tiga hari dua malam di rumah kita. Rasa kangenku saja belum hilang pada mereka. Aku masih ingin terus berada di dekat mereka.

"Emak, belum juga satu minggu di rumah kami, kok cepat sekali mau pulang ke Medan? Bukannya ayah dan emak mau tinggal lebih lama di sini?" protesku.

"Sofiya, emak lupa bilang pada kalian. Di Medan lagi musim kemalingan. Seminggu lalu, rumah Pak Anwar dibongkar orang. Emak yakin, kau bisa mengurus Untari dengan baik. Kalau ada apa-apa, telepon Emak ya, Nak,"

Kau pun kembali mengantar ayah dan emak ke stasiun kereta api, menuju Medan.

Suamiku, beberapa hari kemudian, kau mengabarkan berita terburuk yang pernah kudengar seumur hidupku! Kau dipanggil ke kantor polisi untuk satu pemeriksaan, karena adanya pembobolan mesin ATM di bank tempatmu bekerja!

Aku tak habis mengerti, kenapa kau harus ikut menjalani pemeriksaan? Bukankah tiap bank mempunyai petugas keamanan, dengan sistem pengamanan yang super ketat? Kalau terjadi kebobolan uang di ATM, apakah harus pemimpinnya yang disalahkan?

Kenyataannya kau harus terseret-seret di pengadilan. Seseorang memfitnahmu mendalangi semua ini. Benarkah, suamiku? Aku tidak mempercayai semua ini! Tidak mungkin kau melakukannya! Suamiku, kau terduduk lemah di kursimu. Hakim memutuskan, kau harus menjalani hukuman di dalam penjara selama enam tahun! Kau pun harus mengganti kerugian yang nilainya tidak sedikit!

Bicaralah, suamiku. Kenapa kau hanya diam saja menerima perangkap ini? Kau pasrah menjalani hari-harimu di dalam jeruji besi. Suatu hal yang tak pernah kita bayangkan, akan terjadi dalam hidup kita! Aku tak sanggup harus berpisah darimu. Bagaimana harus kujalani hari-hari tanpamu? Bagaimana aku mengasuh anak kita, tanpa kehadiranmu di sisiku?

Aku kembali ke Medan, dengan kesedihan menaungi hatiku. Tak kuhiraukan pandangan miring orang-orang di sekitarku, yang melecehkan dirimu! Aku hanya tidak dapat menguasai perasaanku saat mendengar sebuah kebenaran lain tentangmu dari emak dan ayah! Aku serasa tidak berjejak di bumi.

"Sofiya, di dalam mobilnya, sewaktu Panji menjemput emak dan ayah di stasiun kereta api, kami tak ubahnya orang asing dibuatnya. Kalau kami tak mengajaknya bicara, dia tak bicara. Kalau kami diam, dia lebih diam lagi! Bagaimana kami bisa kerasan tinggal di rumah kalian?"

Suamiku, aku tak menyangka, air mata emak harus ke luar untuk suatu hal yang tak terduga dari dirimu! Satu hal yang tak pernah kutahu ada di dirimu! Baru kusadari ada sisi lain yang engkau punya di balik sikapmu selama ini.

Mengapa kau begitu sulit mengajak bicara orang tuaku, yang datang jauh-jauh dari Medan? Mengapa kau tak perlakukan mereka sama, seperti kau memperlakukan aku, anak mereka?

Kenyataan itu bagai sebuah pukulan hebat untukku! Berhari-hari aku jadi orang yang murung dan tak bersemangat. Untunglah ada ayah dan emak yang terus menghiburku. Memintaku supaya tetap tawakkal kepada Tuhan dan menganggap itu semua sebagai ujian. Akhirnya aku bisa menguasai diriku dan mengasuh anak kita, Untari.

Suamiku, aku akan selalu berdoa untukmu, semoga kau cepat ke luar dari penjara. Aku akan selalu mencintaimu, tak kan berubah meski kita berpisah ruang dan waktu. Cintaku akan tetap sama, seperti warna biru langit di atas sana!

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

June 26, 2008

Di Ujung Penantian

Oleh : Diani Savitri

Telepon genggam Bahri bergetar di kantung dada kiri kemejanya. "Mount Elizabeth, tolong," katanya singkat pada pengemudi taksi, sebelum menjumput telepon genggam dari kantong dan membuka lipatannya.

Beberapa sentuhan pada tombol, dan terbaca pada layarnya, Sdh sampai? Smg sehat slmt. Ya, ya. Batin Bahri. Semoga kau juga. Semoga kau dan anak kita juga. Telepon genggamnya bergetar lagi. Terbaca pada layar, Kok tidak ada kabar? Kami masih di gawat darurat. Langsung saja, ya, kalau sudah sampai. Bgmn keadaannya? Ketik Bahri. Ibu jarinya gemetar pada setiap tekanan pada tombol huruf. Pesan itu lekas ia kirimkan. Gambar amplop kuning muncul, lalu segera menjauh dan mengecil ke sudut. Pesan dihantarkan.

Masih belum sadar. Tapi stabil. Jawaban terbaca segera pada layar telepon genggamnya. Bgmn hasil tes darahnya yg terakhir? Apa kt dokter? Ketik Bahri kali ini. Matanya lekat menatapi layar telepon genggamnya, memastikan pesan terkirim, dan tersampaikan ke nomor yang dituju. Bahri menunggu jawaban.
"Siapa yang sakit?" pengemudi taksi menyapa dengan logat khas Singapura bercampur dengan dialek khas warga keturunan Cina di sana.
"Anak saya," jawabnya pelan. Enggan pada kemungkinan dimulainya serangkaian percakapan.
"Anda orang Indonesia, ya?"
"Ya."
Lelaki baya itu terkekeh.
"Kalian orang Indonesia kaya-kaya, ya? Saya sering antar penumpang orang Indonesia, langsung dari bandara ke rumah sakit. Kalau saya tanya, kenapa pergi ke rumah sakit di Singapura? Memangnya sakit apa? Dan tahu tidak, kebanyakan bilang apa? Tahu? Tidak, ya."
Ia melanjutkan setelah memastikan penumpangnya memang tidak tahu. Lelaki muda yang diliriknya dari spion itu tidak menjawab, hanya memandang serius ke arah bawah. Mungkin pada telepon genggamnya, yang dari tadi berbunyi dengan nada aneh.
"Kebanyakan, mereka bilang, hanya general check up, pemeriksaan umum! Saya suka tertawa, wow, pemeriksaan umum, sampai ke luar negeri. Pasti kaya sekali. Anda juga, pasti, ya?"

Ada bunyi aneh pada telepon genggamnya lagi. Tapi sempat diliriknya penumpangnya menggeleng. Dan lalu menjawab lemah, "Tidak juga."
"Kenapa, anak Anda? Sekolah di sini?"
"Ya." Cepat terjawab. Anak muda yang sopan. Ah, semua penumpang dari Indonesia yang pernah diantarnya memang biasanya sopan-sopan, pikir pengemudi tua itu. Bahasa Inggris mereka juga cukup baik dan jelas, seperti lelaki muda yang diantarnya kali ini.

"Wah, hebat. Anda tentu kaya. Tinggal di daerah mana?"
"Tanglin."
"Ya, ada apartemen lumayan bagus di situ. Sekolahnya juga cukup bagus. Taman kanak-kanak? Atau sekolah dasar?"
"Sekolah dasar, baru saja pindah dari Jakarta."
"Anda tadi bilang dia sakit?"
"Ya."
"Biasalah. Anak kecil. Bahkan di Singapura pun tidak bisa mengelak dari buruknya cuaca, he he he. Polusi juga, sering membuat anak kecil sesak nafas. Bahkan di Singapura yang sudah teratur lalu lintasnya. Sakit apa, hingga masuk rumah sakit?"
"Kanker."
"Oh."
Wajah pengemudi tua berubah dengan cepat. Bahri mendapati perubahan itu, karena ia memang sengaja mengamatinya melalui spion. Bahri merasakan rasa yang sedikit kejam menjalarinya, seperti meledek laki-laki tua itu, nah, mau bilang apa kau sekarang? Tapi pikiran itu tidak lama. Ia menyesal. Ia tahu, ia hanya sedang galau, dan karenanya tidak suka diajak bicara.

Bacaan terakhir pesan elektronik singkat tadi yang membuatnya kian galau. Terbaca, mungkin harus segera dilakukan tindakan.
Tindakan? Itu bahasa perempuan untuk menggantikan tindakan represi medis untuk makin menjalarnya sel kanker, yang secara fisik akan menyiksa penderitanya. Suatu opsi yang pernah dibicarakan dokter mereka di Jakarta. Perempuan itu memiliki kehalusan budi bahasa yang di awal perjumpaan mereka memikat Bahri.

Bahri tahu, perempuan itu menghindari penggunaan kata yang mengundang rasa tidak nyaman. Baik bagi lawan bicaranya, atau dirinya sendiri. Kebiasaan yang dikenalnya. Seperti saat menghindari pembicaraan mengenai apa yang jadi salah dalam hubungan mereka. Dan memilih untuk menjalani hidup mereka, seperti tidak ada apa-apa, meski berjarak kota dan negara.

"Wah, saya mohon maaf, ya? Saya turut prihatin mendengarnya. Bagaimana keadaannya?"
Tidak baik, tentu. Tapi Bahri ucapkan apa yang ia harapkan,
"Makin baik. Tidak usah minta maaf, tidak apa. Baru stadium dini, diagnosa awal."
Dan, pengemudi taksi itu memang lalu terdiam. Memberi kesempatan pada Bahri merenungi kalimat dengan banyak kata yang disingkat, yang terpendar pada layar telepon genggamnya yang tadi bergetar dan berbunyi tanpa nada.
Trombosit mkin turun. Panas mkn tinggi. Aku brdoa pd Tuhan, maafkn dosaku, ibunya. Maafkn dosa ayahnya. Jngn hukum ia krn kmi. Jngn biarkan jdkan kmi jd orng tua durhaka, yg menelantarkannya.
Getar lagi. Telepon genggam belum sempurna menyelesaikan getaran, jemari Bahri sudah memerintahkan pesan segera ditampilkan di layar. Ia blm jg sadar. Kt dokter, tubuhnya mengalami shock. Apa yg bisa kulakukan, slain brdoa? Dan brdoa? Dn bdoa lg? Airmataku mnderas, tiap tetes brbunyi doa. Aku tTdk sanggup mlht tubuh kcilnya spt susut ditlan ranjang bsar. Warna putih seprai daan putih di bola matanya yg membelalak karena kijang menakutkanku…

Mata Bahri berkaca-kaca. Tuhan, tolong kami. Tolong dia, saat dia sendirian dengan anakku, dan aku belum bisa menggapai mereka. Beri aku waktu menemui mereka, bersujud pada keduanya.
Bangunan rumah sakit segera jelas menjelma di hadapan mereka. Taksi berhenti dengan bunyi mendecit ban yang tertahan berputar mendadak. Pengemudinya menyempatkan menoleh ke belakang saat menyebutkan jumlah yang harus dibayar, tepat seperti yang terbaca pada mesin argo. Tatapannya tulus waktu berkata, "Semoga cepat sembuh, eh? Jangan khawatir, dokter-dokter di sini pandai. Pasti anak Anda akan sembuh. Saya yakin."

Bahri berterima kasih, dan bergegas meninggalkan si pengemudi tua. Setengah berlari menuju ruang gawat darurat yang masih ia hafal betul letaknya, setelah baru beberapa bulan lalu pertama mengantarkan putranya ke sana.
Perempuan itu sudah menanti di sana.
Bahri terpaku, tapi perempuan itu tidak membiarkannya lama termangu. Ia menghampiri Bahri dalam langkah lari kecil. Tubuh mungilnya jatuh ke pelukan Bahri, yang gemetar merasakan betapa rapuh hatinya saat kuat lengannya merengkuh tubuh mungil itu.
"Dokter baru memanggilku. Tapi aku ingin menunggumu."
Mereka lalu melangkah bersama, bergandengan. Lupa, walau mungkin untuk sementara, bahwa mereka pernah dipisahkan oleh jarak waktu dan sirnanya cinta.

(Lalu, di kemudian hari, perempuan itu akan mengingat beberapa saat setelah itu sebagai saat kembalinya Bahri. Ia mengingat pelukan Bahri yang begitu erat setelah itu, di koridor rumah sakit itu, seakan tidak ingin melepasnya lagi. Ia mengingat Bahri yang kemudian menangis begitu keras, seakan ia baru saja kehilangan seorang anak, bukannya baru mendapatkan kepastian bahwa si anaknya akan hidup dengan sehat dan selamat. Ia mengingat permintaan maaf Bahri, maaf untuk pernah meninggalkannya dan anaknya, yang terbata diucapkan di tengah tangisnya.) Tapi, sebelum itu, ada getar pada dada Bahri.

Bahri menjumput telepon genggam dari kantung di dada kemejanya, menyempatkan membukanya. Pada layar terhantar pesan, Mas, relakan ia, ya. Maafkn Kasih yg tdk bs mnjga byi kta. Putri kcl kta sdh pergi brpulang pdNya, 4mnt yg lalu. Langkah Bahri terhenti. Tubuhnya, atau hidupnya, rasanya seperti terbenam dalam kegelapan. Lamat ia dengar perempuan mungil itu, istrinya, berkata, "Tidak mau masuk sekarang? Dokter bilang, putra kita akan selamat. Ia sudah lewati masa kritis, dan ia akan selamat!"

Bahri menangis, memeluk istrinya, mengharapkan kekuatan dari tubuh mungil itu, sementara kekuatannya sendiri meninggalkan dirinya. bibirnya gemetar memohon mengucap ampun, mohon maaf karena meninggalkan mereka, bicara pada istrinya seakan ia adalah Kasih, perempuan kekasihnya yang ditinggalkan pergi. Perempuan yang kini sendiri, berjarak kota dan negara, menunggui tubuh berangsur mendingin si bayi yang pernah menjadi buah kasih mereka.

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live