Amazon.com Widgets

November 15, 2008

B L T

Oleh :  Zaenal Radar T

KALAU ada orang yang bangga menjadi miskin, mungkin sayalah orangnya. Bagaimana tidak, sejak pemerintah menjanjikan akan memberikan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT),saya mengikutsertakan keluarga saya sebagai keluarga yang patut disumbang.

Dan kiranya saya memang patut diperhatikan pemerintah.Tidak punya pekerjaan tetap, punya istri dua,anak lima,yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saya sudah berusaha banting tulang sekuat tenaga. Terkadang menjadi sopir tembak. Serabutan di bengkel mobil. Atau menjadi kuli angkut di pasar.Tetapi, penghasilan yang saya dapat begitu-begitu saja.

Hanya bisa untuk makan dan membayar utang. Makanya saya bersyukur mendengar kabar pemerintah akan memberikan sumbangan langsung tunai pada rakyat miskin.Dan saya menyatakan bahwa keluarga saya miskin. Saya membutuhkan kartu kemiskinan itu. Ketika orang-orang dari kelurahan berencana datang untuk memeriksa keadaan rumah saya dari istri pertama, terpaksa saya menyuruh istri menyembunyikan pesawat televisi 14 inci miliknya di kolong tempat tidur.

Tak lupa pula melarang salah satu anak saya yang biasa bermain sepeda. Semua baju yang bagus-bagus tak boleh ada di dalam lemari. Dispenser, rice cooker, kulkas, harus dienyahkan untuk sementara. Pokoknya, di mata aparatur pemerintah kami harus terlihat miskin.

Begitu pula di rumah istri kedua saya.Saat pemeriksaan,istri saya yang masih bekerja di sebuah pasar swalayan saya larang bekerja. Saya meminta istri saya izin dulu pada perusahaan, untuk sementara di rumah menunggui si kecil. Sepeda motor hasil kreditan kami titipkan di rumah seorang kerabat dekat.

Harapan saya, saat orang dari kelurahan memeriksa rumah kami, tak ada barang-barang yang dikategorikan sebagai barang mewah. Sebelum pemeriksaan berlangsung, anak tertua saya, anak dari istri pertama,protes pada saya.“Pak,kalau cuma main playstation masak nggak boleh?” “Nggak boleh! Kamu sehari saja nggakmain PS bisa,kan?”

“Memangnya kenapa harus disembunyikan, sih, Pak?” dia malah balik bertanya. Karena dia memang belum tahu kalau orang yang datang memeriksa rumah kami adalah petugas dari kelurahan yang memastikan apakah kami benar-benar miskin atau tidak. “Nak, tolonglah bapak sehari ini saja.Kamu nggak main PS sehari saja nggak akan disebut pecundang.Besok dan lain waktu, kamu bisa main sepuasnya kok?” Anak saya tertua itu akhirnya mau mengerti.Tetapi malah ibunya yang tiba-tiba tidak terima.

“Kita nggak pantas mendapatkan sumbangan pemerintah,Pak.Kan kita masih mampu…” katanya, seraya menggendong Tika, anak kami yang paling kecil. “Bukan soal mampu atau tidak,Bu. Saya hanya ingin mendapatkan uang dari pemerintah. Daripada uang itu mereka makan sendiri, kan lebih baik kita juga ikut menikmati.”

“Maksud Bapak apa, toh? Bukankah masih banyak orang lain yang lebih membutuhkannya?” “Bu, dengar ya. Ibu tahu kan Pak Dirjo?” “Pak Dirjo yang mengaku adiknya Pak Lurah itu,kan?Yatahu,dong!” “Nah,Pak Dirjo saja dapat kok Bu. Kalau orang seperti Pak Dirjo saja dapat bantuan langsung tunai,kenapa kita tidak?”

“Pak Dirjo kan lain,Pak. Mungkin dia memang sedang butuh uang.Lagipula, berapa besar sih pemberian pemerintah itu. Nggak sebanding sama omongan orang-orang nanti, Pak. Kalau mereka tahu kita juga dapat…” “Apa pedulinya sama orang lain, Bu.Memangnya mereka peduli kalau kita miskin atau nggak? Lagipula, lumayan kalau cair,Bu.Dalam dua bulan ini, kita dapat enam ratus ribu.

Di zaman serba sulit seperti ini, orang macam kita mencari satu rupiah saja susah. Kalaupun uang itu tidak kita ambil,apa Ibu tahu uang itu dikemanakan?” “Yadisimpan pemerintah,Pak.” “Disimpan di mana? Apa Ibu tahu?” “Ibu ndak tahu! Itu kan urusan pemerintah!” “Ibu mau tahu uang rakyat itu ditaruh di mana?” “Apa Bapak tahu?” “Justru karena saya juga nggak tahu,makanya saya berusaha mendapatkan sumbangan itu!” Setelah itu istri saya diam.Pada akhirnya ia setuju saya berencana mengambil bantuan langsung tunai yang diberikan pemerintah. ***

 Ternyata pemeriksaan seperti yang dibicarakan banyak orang tak pernah terjadi.Tak ada orang dari kelurahan atau instansi pemerintah manapun yang memeriksa kedua rumah saya. Yang saya temui justru Pak Jalil,orang dari kelurahan yang menangani proyek bantuan langsung tunai di kampung saya.Pak Jalil bilang,bahwa saya dijamin mendapatkan bantuan itu.

“Yang penting ada pelicinnya…”ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Saya tentu saja menyetujui usul Pak Jalil.Saya menuruti kemauannya, sebab yang lainnya juga katanya begitu.Setelah mendapat kartu untuk mengambil uang bantuan langsung tunai di kantor pos nanti,saya berjanji akan memberikan sepuluh persen pada Pak Jalil. Tetapi bukan sesuatu yang mudah mengambil uang bantuan pemerintah di kantor pos.

Saya dengar Pak Dirjo ditanyai ini itu oleh petugas.Rupanya ada saja petugas kantor pos yang bersikap sinis saat Pak Dirjo mengambil uangnya. “Masak orang seperti Bapak dapat juga?” tanya seorang petugas di kantor pos, saat Pak Dirjo mencairkan dana bantuan langsung tunai miliknya.

Pak Dirjo cuma senyum,karena ia tidak bisa mengelak. Mendengar cerita Pak Dirjo yang entah dari mana datangnya itu, saya pun mempersiapkan diri bagaimana agar petugas kantor pos tidak curiga pada saya nantinya.Saya harus mengubah penampilan agar saya terlihat benar-benar miskin. Sebab,menurut ketentuan resmi pemerintah, yang berhak mendapatkan dana bantuan langsung tunai adalah rakyat yang benar-benar miskin.

Warga yang memiliki televisi, tidak masuk ke dalam kategori rakyat miskin. Kalau ternyata saya tetap mendapatkan kartu untuk mengambil dana bantuan langsung tunai itu, bukan semata-mata karena saya miskin. Melainkan karena saya sudah berjanji pada Pak Jalil,oknum pemerintah kelas cere itu, akan memberikan bagian untuknya. ***

Pada hari pencairan dana di kantor pos, saya sudah siap pagi-pagi sekali. Tadinya, saya ingin pakai sepeda motor istri muda saya. Tetapi saya urungkan karena khawatir akan banyak cibiran dari orang-orang yang ikut mengambil dana itu,menganggap saya sebagai rakyat yang tidak berperikemanusiaan, karena ikut-ikutan mengambil bagian yang bukan haknya.

Untuk itulah saya cukup berjalan kaki,dilanjutkan naik angkutan kota, lalu berjalan sekitar seratus meter untuk memasuki pintu kantor pos. Saya berjalan dengan langkah gontai. Saya lupa bagaimana cara orang yang benar-benar miskin berjalan. Mungkin lebih gontai dari orang kaya.Atau lebih tidak bersemangat daripada orang putus asa. Dan yang terpenting adalah penampilan.

Sebelum berangkat, saya cari baju saya yang paling kumal,tidak menarik, kalau perlu yang ada tambalannya.Tapi, saya tidak punya. Maka saya robek satu kemeja yang sudah tua dan agak lusuh, lalu segera saya kenakan. Saya sengaja tidak mandi lebih dulu, agar terlihat benarbenar kumuh.

Alhasil, setelah tiba di kantor pos, semua dugaan saya meleset soal orang miskin! Ternyata tidak semua orang miskin kumal seperti saya. Karena saat saya tiba di halaman parkir kantor pos, halaman tersebut dipenuhi sepeda motor. Mereka adalah orangorang yang hendak mengambil dana bantuan langsung tunai seperti saya. Namun begitu, lebih banyak perempuan tua dan ibu-ibu serta lelaki paruh baya.

Saya tidak tahu apakah sepeda motor yang terparkir di halaman kantor pos ini milik mereka,atau mungkin cuma ojek. Saat memasuki pintu kantor pos, antrean sudah lumayan panjang. Oh, begitu melimpahkah orang miskin di kampung saya? Orang-orang saling berdesakan.Bahkan di antara mereka ada yang sempat ribut omongan. Saya berusaha mengalah.

Saya pikir, saya dan kedua istri serta anak-anak saya masih memiliki persediaan cukup uang untuk tiga hari ke depan.Jadi,tak perlu bernafsu mencairkan dana ini, apalagi sampai bertengkar dengan sesama pengantre. Saya menghindar ke salah satu sudut. Saya perhatikan orang-orang sesama pengantre. Seorang ibu mengeluarkan kaca rias dari dalam dompetnya, lalu memoles bibirnya dengan sebuah gincu murahan.

Ada seorang lelaki paruh baya, saya kira seumuran dengan saya, mengeluarkan telepon genggam dari kantung celana. Saya dekati lelaki itu, tapi tidak bermaksud memancing perhatiannya. Saya mendengar lelaki itu bicara. “Bu, antre banget nih! Dulu kenapa nggak pakai KTP Ibu saja. Di sini bau apek, lagi! Ya, sudah. Saya antre.Tapi, kayaknya lama. Kalau kamu mau ke mal,kamu berangkat saja sama anakanak duluan.Nanti saya menyusul!”

Lelaki setengah baya itu menutup telepon selulernya. Bicaranya memang sedikit keras. Mungkin ia sengaja bicara keras-keras agar orang di sekitarnya mengetahui bila ia bicara melalui ponsel. Berikutnya,ada satu dua pengantre lain yang juga mengeluarkan telepon seluler. Bahkan ada yang sempat mengabadikan orang-orang yang antre dengan ponsel kamera. Tiba-tiba saya merasa muak melihat tingkah mereka.Apalagi gelang emas salah seorang perempuan paruh baya yang berdiri di tengah-tengah antrean. Saya jadi ragu, apakah saya sedang berada di tengah-tengah antrean orang-orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan pemerintah?

Saya tidak percaya bila saya berada di sebuah kantor pos, tengah menunggu antrean pencairan dana kemiskinan. Saya merasa malu berada di antara mereka. Saya ingin menghujat mereka, seperti menghujat diri saya sendiri.Saya tak habis pikir, siapakah orang yang disebut miskin? Saya lihat di televisi, banyak sekali korban bencana alam yang membutuhkan dana kemanusiaan.

Sementara saya seperti merengek-rengek, mengantre sumbangan pemerintah. Untuk menghilangkan rasa malu, saya keluarkan surat pengambilan pencairan dana itu,lalu langsung saya robek-robek. Saya membuangnya ke tong sampah, di atas tumpukan tisu, kaleng bekas fresh drink,dan juga kulit jeruk mandarin. Semua itu sampah dari para pengantre. ***

Hari berikutnya, saat Pak Jalil menagih jatah, saya katakan padanya kalau saya tidak mengambil dana BLT. Namun, dia tidak percaya. Dia yakin kalau saya mengambil dana itu di kantor pos. Sehingga dia tetap minta bagian sepuluh persen. Saya kasihan padanya, maka saya berikan sepuluh persen dari jumlah uang yang seharusnya saya dapat kemarin. Saya menatap kepergian Pak Jalil, oknum pemerintah kelas cere itu,sampai ketika tubuhnya tertelan sebuah sedan mengkilat.

Saya tidak peduli orang pemerintahan macam Pak Jalil telah menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya serahkan saja pada Tuhan. Saya yakin kelak Tuhan akan menghukum orang-orang zalim sepertinya.Sebab saya percaya Tuhan Maha Adil.Namun saya khawatir, apakah orang seperti Pak Jalil mempercayai Tuhan?

 

Sumber : Seputar Indonesia

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

April 22, 2008

Penghulu

Oleh : Zaenal Radar T

Wajah Pak Penghulu langsung berubah pucat manakala kedua mempelai duduk di hadapannya. Baru kali ini Pak Penghulu terlihat begitu gugup. Beliau ragu untuk segera melakukan upacara yang sangat sakral dalam kehidupan sepasang manusia: Pernikahan. Sebelum acara pernikahan dimulai, Pak Penghulu yang hidup sendirian itu minta ijin ke belakang.

Menyadari akan perlakuan yang tidak mengenakkan itu, kedua calon mempelai yang masih tampak muda-muda itu mengejar Pak Penghulu untuk minta dinikahkan secepatnya.

"Tolonglah, Pak Penghulu! Please! Tunggu apalagi? Kami sangat berharap bapak menikahkan kami sekarang juga!" rayu salah satu calon mempelai.
"Benar Pak Penghulu! Rekan-rekan kami sudah menunggu! Pesta telah kami siapkan! Kami akan terlambat bila Pak Penghulu tak segera menikahkan kami!" tambah calon mempelai yang lain.
Pak Penghulu tak menjawab. Ia hanya mondar-mandir, seolah tak mendengar bujuk rayu itu.
"Tunggu sebentar. Perut saya mules!"

Pak Penghulu meninggalkan kedua calon mempelai, lalu masuk kamar kecil. Di dalam kamar kecil itu beliau tidak berbuat apa-apa. Tidak buang air kecil atau besar. Ia hanya berdiri sambil menghela nafas yang terasa sesak. Seperti tengah menghadapi sebuah peristiwa yang sungguh luar biasa beratnya. Meski selama ini beliau terbiasa menikahkan berpasang-pasang pengantin, tetapi untuk kedua calon mempelai kali ini ia teramat berat melakukannya.

Di daerahnya, memang tidak semua calon pengantin dinikahkan olehnya. Sebab Pak Penghulu yang satu ini hanya menerima pasangan yang setuju menikah di bawah tangan. Artinya, mempelai laki-laki dan wanita yang dinikahkan tak mendapat surat nikah. Surat nikah resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Agama.

Pak Penghulu sudah sangat berpengalaman menikahkan orang. Baik dipanggil ke rumah salah satu mempelai maupun di kediamannya. Empat puluh tahun sudah Pak penghulu berkarir sebagai seorang penghulu. Jadi beliau sudah banyak makan asam garam soal pernikahan.

Selama menikahkan orang, beliau mengaku belum pernah mengalami kesulitan atau perkara soal sah tidak sahnya tentang hasil pernikahan yang dilakukannya. Bahkan, Pak Penghulu pun bisa membuat surat kawin resmi dari Departemen Agama, seperti yang didapatkan oleh pasangan yang menikah di Kantor Urusan Agama.

"Bagaimana cara Pak Penghulu mendapatkan surat nikah dari Departemen Agama?" tanya salah seorang mempelai pria yang menikah di bawah tangan pada Pak Penghulu, suatu ketika.
"Ah, gampang! Siapkan saja uang secukupnya. Nanti bapak yang mengatur!"

"Bapak bisa?!"
"Sudahlah. Apa sih sekarang ini yang tak bisa dibeli?!"
Bukan soal mampu mengurus soal surat-surat nikah saja yang bisa dilakukan Pak Penghulu. Beliau juga bisa menikahkan mempelai berkewarganegaraan asing. Bahkan, setelah itu mendapat surat nikah resmi! Benar-benar luar biasa Pak Penghulu yang satu ini.

Namun, malam ini, Pak Penghulu pusing tujuh keliling ketika menghadapi kedua calon mempelai yang datang ke rumahnya. Tiba-tiba ia merasa dirundung kegelisahan yang menjadi-jadi. Tidak seperti biasanya, Pak Penghulu dicekam rasa takut luar biasa manakala hendak menikahkan kedua mempelai seperti yang lazim beliau lakukan.

Saat Pak penghulu keluar dari kamar kecil, kembali kedua calon mempelai mendesaknya untuk segera menikahkannya. Dibantu oleh dua orang saksi yang sejak sore tadi menemani mereka.

"Come on, sir! Don't kid us! Saya mohon Pak Penghulu tidak merasa ragu untuk segera melakukan prosesi pernikahan kami!"

Pak Penghulu tidak menjawab. Beliau hanya memandangi satu persatu wajah mempelai dengan raut wajah pucat pasi. Ia seolah minta pengertian untuk tidak dipaksa-paksa. Sepintas ia ingat kaum Nabi Luth yang dikutuk Allah karena homo — laki-laki bercinta dengan laki-laki.

"Kenapa Pak Penghulu? Bapak satu-satunya penghulu di daerah ini yang kami kenal? Kenapa Pak Penghulu ragu menikahkan kami!?" desak salah satu mempelai, dengan raut wajah berubah emosi.

"Kami tidak menuntut surat nikah resmi departemen agama! Kami menikah dibawah tangan, seperti kebanyakan mempelai yang menikah dengan Pak Penghulu!" tambah calon mempelai satunya dengan iba.

Pak Penghulu tetap tak menjawab. Ia benar-benar merasa ketakutan ketika kembali saling berhadapan dengan kedua mempelai ini, tidak seperti yang selama ini terjadi selama kurun waktu empat puluh tahun berkarir sebagai seorang penghulu!

"Beri saya waktu untuk berfikir," pinta Pak Penghulu akhirnya, sambil melangkah ke beranda depan rumahnya.

Malam semakin larut. Kedua mempelai tampak resah. Pak Penghulu masih menimbang-nimbang, apakah ia akan menikahkan kedua mempelai yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya ini atau tidak?

Sementara itu, karena belum juga mendapat kepastian setelah berjam-jam menunggu, kedua mempelai kembali mendatangi Pak Penghulu yang duduk termenung di kursi beranda depan rumahnya.

"Berapa pun akan saya bayar Pak Penghulu! Asalkan Pak Penghulu mau menikahkan kami!" rengek salah satu mempelai.

Masih tak ada jawaban. Pak Penghulu tetap diam membisu. Ia mulai berfikir. Dosa apakah yang tengah ia tanggung ini? Selama ini ia memang menikahkan orang di bawah tangan. Salahkah apa yang selama ini ia lakukan? Dulu, dulu sekali, ia menikahkan orang karena berniat membantu. Ia pikir, daripada berbuat zinah, orang lebih baik menikah. Begitu alasannya.

Di samping itu, mengapa orang-orang di daerahnya memilih dinikahkan oleh Pak Pengulu, karena tidak semua orang mampu menikah di Departemen Agama. Tak mampu membiayai. Lagipula, pasangan yang memilih dinikahkannya tak pernah memikirkan kekurangan atau kelebihan dinikahkan olehnya atau penghulu lain.

Tapi belakangan ini Pak Penghulu sudah jarang menikahkan orang. Sebab, orang lebih memilih menikah di kantor catatan sipil yang terletak di dekat kelurahan ketimbang dinikahkan olehnya. Mungkin karena sekarang ini penduduk yang menikah berharap punya surat nikah resmi. Sementara Pak Penghulu sudah tidak bisa mengeluarkan surat nikah resmi lagi. Pak Penghulu tak mau menyogok pihak depag yang biasa mengurus surat-surat nikah itu.

Disamping itu, setiap anak yang hendak masuk sekolah, disyaratkan pihak sekolah agar kedua orangtuanya memiliki surat nikah guna mengurus akta kelahiran. Jika tidak memenuhi syarat, akan sulit mengurus hal-hal lainnya yang juga membutuhkan surat nikah sebagai bukti bahwa kedua orangtua mereka telah resmi menikah.

Namun begitu, kedua mempelai yang saat ini berada di kediaman beliau tak peduli. Mendesak segera dinikahkan, walau tanpa surat nikah.
"Mereka sudah memenuhi syarat menikah, Pak Penghulu! Saksi ada! Mahar ada! Apalagi?!" kali ini salah seorang saksi yang membujuk Pak Penghulu untuk segera menikahkan dua calon mempelai itu.

"Saya tidak bisa, nak…."
"Why not?! Kenapa?! Apakah karena selama ini Pak Penghulu sudah jarang menikahkan orang lagi? Atau…. " salah satu mempelai hampir bersujud di kaki Pak Penghulu, dan terlihat meneteskan airmata.

"Bukan, bukan itu masalahnya, nak," potong Pak Penghulu, sambil memegangi pundak salah satu calon mempelai yang hendak bersujud di kakinya itu.

"Apa dong, pak?! Kata orang-orang Bapak sudah empat puluh tahun menjadi penghulu! Apa dong masalahnya, Pak?!"
"Masalahnya… selama ini bapak tak pernah menikahkan seorang mempelai laki-laki dengan mempelai laki-laki!"
"Kami ini pasangan gay, Pak! Bapak tidak baca koran, yah? Di Belanda saja sudah banyak gay yang menikah, Pak!"
"Ya, sudah! Kalian ke Belanda saja! Jangan menikah di sini! Bapak tidak bisa, nak!!"

"Pak! Pak Penghulu…!!"
Akhirnya Pak Penghulu masuk kamarnya dan mengunci diri! Pak Penghulu tidak memperdulikan kedua mempelai yang sudah siap menikah itu. Pak Penghulu tak sudi dibujuk rayu. Dua orang saksi pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kedua mempelai 'jeruk makan jeruk' itu pun hanya bisa menangis di depan kamar Pak Penghulu.

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment

April 18, 2008

Kubah Emas

Oleh : Zaenal Radar T

Sejak masjid kubah emas itu selesai dibangun, orang-orang dari berbagai pelosok daerah berdatangan. Beberapa warga sekitar masjid kecipratan rejeki. Anak-anak mudanya mendapat pekerjaan sebagai tukang parkir, ada beberapa warga yang ditugasi sebagai penjaga masjid, dan sejumlah warga lainnya membuka lapak-lapak berjualan makanan di luar areal rumah ibadah itu.

Masjid kubah emas telah membawa berkah bagi sebagian warga sekitar. Namun, tidak bagi Markum dan keluarganya. Padahal, rumah Markum, yang lebih pantas disebut gubuk, berbatasan dengan pagar masjid. Markum pernah menawarkan diri jadi penjaga masjid, tetapi ia kalah bersaing dengan warga lainnya. Menjadi marbot masjid saja Markum tak lulus tes. Markum tidak memenuhi syarat.

Akhirnya Markum hanya menjadi penonton, seperti para pengunjung masjid kubah emas lainnya yang datang dari berbagai pelosok daerah itu. Hanya saja kalau pengunjung lainnya mengagumi kubah-kubah yang berlapiskan emas, Markum memikirkan bagaimana caranya mengorek-ngorek permukaan kubah itu untuk mengambil kandungan emasnya.

Adzan Isya sudah lama berkumandang. Markum masih berdiri di balik pagar masjid, tepat di sisi tiang gubuknya. Seperti malam sebelumnya, Markum memandangi kubah-kubah masjid yang berpendaran sorot cahaya lampu. Markum sudah hapal jam berapa pintu masjid ditutup untuk umum. Dan Markum tentu hapal benar kapan para penjaga masjid selesai berkeliling memeriksa sekitar masjid, memastikan bahwa keadaan aman.

"Pak…," suara istrinya terdengar pelan. Markum tak menoleh, masih memerhatikan salah satu kubah emas itu. Istrinya mendekat.
"Pak, sudah malam. Ayo masuk… uhuk!" istri Markum merajuk sambil sesekali terbatuk.

"Ibu saja duluan. Aku belum ngantuk. Aku sedang melihat kubah emas itu."
"Heran… hampir setiap malam bapak tidak bosan-bosannya melihat kubah-kubah itu."

Markum menatap wajah istrinya. Kecantikannya sudah lama memudar sejak digerogoti asma lima tahun lalu. Nampak kulit wajahnya mulai mengeriput. Markum menyadari, istrinya belum benar-benar tua. Kemiskinan telah membuatnya demikian.

"Pak, kalau begitu aku tidur duluan."
Markum mengangguk pelan. Setelah itu Markum mengeluarkan pisau baja yang sudah disiapkan untuk mengorek lapisan emas kubah masjid itu. Markum bergegas menuju sebuah pohon rambutan yang dahannya menjorok ke bangunan masjid. Markum naik pohon rambutan itu dan melompat ke genting masjid, seperti ninja dalam film Jepang. Saat sudah sampai di dekat kubah, Markum terperangah memandangi kubah berlapis emas.

Mula-mula ia usap-usap permukaan kubah itu. Yang ia rasakan seperti megusap lembaran-lembaran uang. Dulu Markum pernah jadi penambang emas di sebuah sungai, jauh di pelosok kampung asalnya. Saat butiran-butiran keemasan mengerling di balik pasir, itulah yang ia rasakan saat menggosok-gosok permukaan kubah emas itu.

Tetapi saat hendak menggosok kubah emas itu, Markum teringat akan pesan almarhum ibunya. Yang paling lekat dalam ingatannya, Markum harus jadi orang jujur. Meskipun miskin, mencuri adalah perbuatan yang hina. Markum tak jadi mengorek lapisan emas pada kubah masjid tersebut.

Baru tadi sore Markum berdoa di dalam masjid kubah emas yang emasnya tengah ia raba. Markum berdoa dengan khusuk, berharap Tuhan mau mendengarnya.

"Ya Allah Ya Rabbi, aku selalu memohon kepada-Mu, agar mendapatkan rizki yang halal. Tetapi sampai saat ini hamba belum juga bisa mendapatkannya. Ampunilah hamba bila hamba mengupas emas kubah rumah-Mu ini. Ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, ya Rabbi."

Markum memejamkan matanya sesaat, membayangkan anaknya, Mardi, yang harus melunasi SPP. Lalu anak keduanya, Sarda, yang harus mendaftar sekolah. Dan si bungsu Adi yang harus dibawa ke dokter. Istrinya pun harus disembuhkan, dan tentu perlu biaya tak sedikit.

Markum mulai menggosok-gosokkan pisau khususnya pada permukaan kubah itu, dan tak lupa menadah hasil serutan pisaunya pada sebuah kain. Sambil terus menggosok, tatapan matanya mengedar ke sekeliling masjid. Ketika melihat salah satu penjaga masjid berkeliling, Markum menyudahi pekerjaanya. Dan saat penjaga tak terlihat lagi, Markum melanjutkannya. Akan tetapi langit tak bersahabat. Gerimis mulai turun membasahi genting-genting masjid. Sepertinya Tuhan bersedih menyaksikan apa yang dilakukan Markum. Markum tak peduli, ia terus menggosok-gosokkan pisau bajanya. Setelah hampir setengah jam menggosok permukaan kubah, Markum mengumpulkan serbuk-serbuk emas pada kain dan melipatnya. Markum memegangnya erat-erat lalu perlahan-lahan menuruni genting yang basah.

Tapi tak mudah berjalan di atas genting yang licin. Karena terlalu telah menggosok, yang menyebabkan tubuhnya kecapekan, Markum kehilangan keseimbangan. Salah satu kaki Markum terpeleset dan tubuhnya terjerembab. Tubuh Markum meluncur deras menuruni genting masjid hingga terdengar suara berdebam!

Suara-suara penjaga mulai terdengar. Sekitar empat penjaga masjid menyorotkan senter ke arah suara. Markum nampak tak berdaya, apalagi saat salah satu penjaga melihat keberadaan Markum yang teronggok di ujung genting. Sebelah tangannya yang memegangi pisau terlihat dari bawah masjid.

"Astaghfirullah!! Ada orang di atas genting!"
"Awas, hati-hati!! Dia bersenjata!"
"Kasih tahu warga! Umumkan lewat speaker masjid!"
Lalu salah satu penjaga masuk ke dalam masjid, dan mengumumkan lewat speaker. "Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh! Saudara-saudara sekalian, di masjid kubah emas ada pencuri! Pencurinya masih berada di atas genting!"

Markum mendengar pengumuman spekaer yang memekakkan telinga. Meskipun suaranya keras, ia mendengarnya lamat-lamat. Markum gugup dan lemas melihat darah mulai menetes dari keningnya. Saat terjerembab dari atas kubah tadi, kepalanya membentur ujung genting.

Beberapa saat kemudian warga sekitar masjid sudah berkumpul. Mereka adalah warga yang selama ini membangga-banggakan masjid kubah emas, dan diantara mereka memang ada yang mendapatkan rizki dari keberadaan masjid. Mereka adalah tukang parkir, pedagang asongan sekitar masjid, dan warga lainnya. Di antara mereka ada yang ternyata malas shalat di masjid, tapi kalau mendengar ada pencuri di masjid darahnya naik ke ubun-ubun.

"Ayo kita tangkap!"
"Habisin aja!"
"Bakar malingnya!"
Teriakan-teriakan di bawah masjid membuat Markum makin tersudut. Markum tak mampu menatap ke bawah masjid karena posisi tubuhnya yang terlentang di salah satu ujung genting. Namun begitu, Markum masih bisa memandangi cahaya lampu masjid berpendaran menyorot kubah emasnya. "Pak…." Markum seperti mendengarkan suara istrinya.

"Pak… ayo masuk! Hujan-hujan begini kok di luar. Nanti bapak sakit." Suara sang istri membuyarkan lamunannya. Pisau dalam genggamannya nyaris terjatuh.

"Pak. Uhuk… bapak sedang apa di luar?" ulang istrinya, sambil sesekali terbatuk. Gerimis yang membasahi kepalanya mulai berhenti. Markum tahu kalau istrinya tengah menatap dirinya. Markum memaksakan tersenyum sambil memandangi kubah-kubah emas yang berkilauan cahaya lampu. "Bu. Kubah masjid itu indah sekali ya?"

"Ya jelas saja, Pak. Kubahnya saja dari emas. Uhuk… ayo Pak masuk. Nanti bapak masuk angin."

Markum melepaskan pisau dalam genggaman, lalu masuk mengikuti langkah istrinya ke dalam gubuk. Kubah masjid berpendar-pendar meski langit tanpa rembulan. Entahlah… apakah besok malam Markum tak berubah pikiran untuk tetap mencongkel salah satu kubah emas itu.

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,

Spread the word

del.icio.us Digg Furl Reddit Ask BlinkList blogmarks BUMPzee Blogg-Buzz Google Ma.gnolia muti Netscape Newsvine PlugIM ppnow Rojo Shadows Simpy Slashdot Socializer Sphere Spurl StumbleUpon Tailrank Technorati Windows Live Wists Yahoo! Help

Permalink • Print • Comment