




Museum Lambung Mangkurat di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan kembali menggelar Lomba Permainan Tradisional Bagasing dengan tema “Adu Pukul” sebagai agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya melestarikan warisan budaya Banua sekaligus mempererat silaturahmi antar komunitas bagasing di Kalimantan Selatan.
Lomba tahun ini diikuti sebanyak 12 tim dari enam kabupaten/kota, yakni Kabupaten Barito Kuala (lima tim), Kota Banjarmasin (satu tim), Kabupaten Banjar (satu tim), Kabupaten Tapin (tiga tim), Kabupaten Balangan (satu tim), dan Kabupaten Tabalong (satu tim). Seluruh peserta bertanding pada kategori umum yang mempertemukan peserta anak-anak hingga dewasa.
Kepala UPTD Museum Lambung Mangkurat, Ady Surya mengatakan penyelenggaraan lomba bagasing merupakan bentuk komitmen museum dalam mengangkat kembali nilai-nilai budaya daerah melalui permainan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Kami kembali melaksanakan lomba bagasing sebagai agenda tahunan. Kami berharap kegiatan ini dapat mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan di Provinsi Kalimantan Selatan serta menjadi sarana mempererat silaturahmi antar komunitas bagasing,” ujar Ady, Banjarbaru, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, Museum Lambung Mangkurat ingin permainan bagasing dapat dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya kalangan senior. Karena itu, pada penyelenggaraan berikutnya museum berencana menghadirkan kategori khusus anak-anak sebagai upaya regenerasi pelaku permainan tradisional.
“Kami berharap bagasing dapat dimainkan oleh semua kalangan. Ke depan kami akan mengagendakan perlombaan khusus untuk kategori anak-anak agar mereka semakin mengenal dan mencintai permainan tradisional ini,” katanya.
Selain pertandingan, kegiatan juga diisi seminar singkat mengenai sejarah dan perkembangan permainan bagasing di Kalimantan Selatan yang disampaikan oleh Maestro Bagasing asal Kabupaten Tapin. Seminar tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta dan masyarakat mengenai nilai sejarah serta filosofi permainan tradisional tersebut.
Melalui penyelenggaraan lomba ini, Museum Lambung Mangkurat berharap bagasing semakin dikenal oleh generasi muda yang kini lebih akrab dengan permainan berbasis teknologi.
“Harapan kami, bagasing dapat dikenal kembali oleh anak-anak kita. Saat ini mereka lebih banyak mengenal permainan berbasis teknologi, sehingga permainan tradisional seperti bagasing perlu terus diperkenalkan dan dilestarikan,” tutupnya.
Tingginya jumlah peserta yang berasal dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa permainan bagasing masih mendapat antusiasme besar dari masyarakat. Kondisi ini diharapkan menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan salah satu warisan budaya Kalimantan Selatan agar tetap lestari dan diwariskan kepada generasi berikutnya. MC Kalsel/Jml
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










