
Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong percepatan pembangunan sektor peternakan dan perkebunan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan energi daerah. Hal ini disampaikan Kepala Disbunnak Kalsel, Suparmi, dalam hasil wawancara terkait berbagai langkah strategis yang tengah dijalankan
Suparmi menegaskan bahwa pihaknya menggandeng berbagai mitra strategis lintas sektor. Pada sektor tanaman pangan, Disbunnak melihat potensi besar limbah tanaman pangan sebagai sumber pakan ternak sapi. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada limbah perkebunan, khususnya kelapa sawit, sekaligus mendukung pengembangan peternakan sapi secara masif melalui program yang sedang berjalan.
“Pada sektor kehutanan, Disbunnak mendorong perusahaan pemegang konsesi kehutanan untuk turut mengembangkan peternakan sapi di Kalimantan Selatan. Salah satu contoh implementasi telah dilakukan oleh Hutan Rindang Banua di Kabupaten Tanah Bumbu yang telah mengembangkan usaha sapi dan kemitraan peternakan di sejumlah kabupaten,” kata Suparmi di Banjarbaru, Senin (23/2/2026)
Sementara itu, sektor pertambangan juga dilibatkan melalui pemanfaatan lahan eks reklamasi tambang sebagai kawasan potensial pengembangan peternakan sapi. Selain mendukung ketahanan pangan dan energi, langkah ini juga menjadi bagian dari corporate social responsibility (CSR) produktif perusahaan tambang untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di Kalimantan Selatan.
Dalam pengembangan hilirisasi, Disbunnak Kalsel juga mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah berupa pakan dan pupuk. Di Kabupaten Tabalong, telah terbangun unit pengolahan limbah skala mini yang dikelola peternak rakyat untuk memproduksi pupuk organik. Produk tersebut telah dimanfaatkan petani, termasuk pada perkebunan karet, dan dinilai sangat membantu kebutuhan pupuk organik.
“Untuk pakan ternak, industri pengolahan berbasis limbah kelapa sawit telah beroperasi di Kabupaten Tanah Bumbu dengan skala industri dan mampu melayani kebutuhan pakan sapi maupun unggas,” tuturnya.
Ke depannya, Disbunnak Kalsel menargetkan penguatan pengembangan pupuk organik dan energi berbasis limbah sawit melalui kerja sama riset dan implementasi teknologi. Tahun ini, Disbunnak Kalsel akan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), National Institute of Green Technology (NIGT) Korea, serta Korea Institute of Industrial Technology (KITECH).
“Kerja sama ini difokuskan pada riset, kajian, serta implementasi pembangunan pabrik pupuk organik (fertilizer) dan energi dari limbah sawit. Tahap awal yang disiapkan pada tahun berjalan meliputi penyusunan regulasi dan studi kelayakan (feasibility study/FS) terpadu untuk pabrik pakan, pupuk, dan energi,” imbuhnya.
Suparmi menyampaikan bahwa komunikasi dengan mitra Korea Selatan telah berjalan dan diharapkan tidak hanya berhenti pada riset, tetapi juga disertai diseminasi teknologi serta dukungan pendanaan pembangunan fasilitas energi dan pupuk.
Selain itu, Disbunnak Kalsel juga telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia terkait usulan pembangunan pabrik pakan dan pupuk berbasis limbah. Secara umum, berbagai langkah konkret telah dilakukan, baik pada level peternak rakyat maupun industri.
“Untuk pabrik pupuk, implementasi sudah ada meski masih berskala industri rakyat. Sedangkan pabrik pakan dari limbah sawit sudah tersedia pada skala industri,” jelanya.
Dalam rangka memperkuat langkah tersebut, Disbunnak Kalsel juga melaksanakan rapat koordinasi bersama BRIN, NIGT Korea, dan KITECH untuk mendukung riset terintegrasi sektor perkebunan dan peternakan yang berorientasi pada pengembangan sistem industri dan manufaktur berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus mempersiapkan pelaksanaan survei lapang guna menghimpun data dan informasi terkait penerapan teknologi serta sistem industri berkelanjutan di Kalimantan Selatan. Disbunnak Kalsel menyatakan kesiapan penuh untuk memfasilitasi koordinasi dan pendampingan survei sesuai ruang lingkup riset.
“Melalui langkah ini, diharapkan terbangun sinergi kuat antara pemerintah daerah, lembaga riset nasional, mitra internasional, dan pelaku usaha dalam mendorong pengembangan sektor perkebunan dan peternakan berkelanjutan berbasis inovasi dan teknologi sesuai potensi dan karakteristik Kalimantan Selatan,” pungkasnya. MC Kalsel/scw
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










