Pelabuhan Mekar Putih Berpotensi Dorong Ekspor Langsung dan Tingkatkan Penerimaan Daerah

Pelabuhan Mekar Putih Berpotensi Dorong Ekspor Langsung dan Tingkatkan Penerimaan Daerah

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong penguatan sektor perdagangan luar negeri melalui pengembangan infrastruktur logistik dan pelabuhan. Salah satu rencana strategis yang dinilai memiliki dampak besar bagi peningkatan ekspor daerah adalah pembangunan pelabuhan di kawasan Mekar Putih.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan, Ahmad Bagiawan, menjelaskan bahwa pelabuhan yang direncanakan di Mekar Putih memiliki keunggulan dari sisi kedalaman perairan yang memungkinkan kapal-kapal besar bersandar langsung di dermaga.

“Pelabuhan yang direncanakan di Mekar Putih memiliki kedalaman sekitar 20 meter, atau dua kali lipat dari kedalaman Pelabuhan Trisakti yang saat ini sekitar 10 meter. Dengan kedalaman tersebut, kapal-kapal besar nantinya bisa langsung merapat ke dermaga tanpa harus melakukan transit,” ujarnya, Banjarbaru, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut akan membuka peluang yang lebih besar bagi aktivitas ekspor maupun impor dari Kalimantan Selatan secara langsung ke berbagai negara.

“Jika pelabuhan ini terwujud, tentu akan membuka peluang yang lebih luas bagi perdagangan internasional, baik ekspor maupun impor, karena kapal besar bisa langsung masuk ke pelabuhan kita,” jelasnya.

Selama ini, sebagian komoditas ekspor dari Kalimantan Selatan masih harus melalui pelabuhan besar di luar daerah seperti Surabaya atau Jakarta sebelum dikirim ke luar negeri.

“Contohnya ekspor rotan. Saat ini belum bisa langsung dari pelabuhan di sini ke luar negeri, sehingga harus melalui Surabaya atau Jakarta terlebih dahulu. Akibatnya, nilai ekspor tersebut tercatat di pelabuhan mereka,” kata Ahmad Bagiawan.

Hal tersebut juga berdampak pada pencatatan dokumen perdagangan internasional seperti Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO) yang dibutuhkan dalam proses ekspor.

“Padahal bahan baku seperti rotan berasal dari Kalimantan Selatan, bukan dari Surabaya atau Jakarta. Jadi dengan adanya pelabuhan yang lebih memadai, pencatatan ekspor bisa langsung dari daerah kita,” tambahnya.

Ia menilai keberadaan pelabuhan tersebut juga akan memberikan dampak positif terhadap penerimaan daerah melalui Dana Bagi Hasil (DBH) dari aktivitas ekspor.

“Ketika ekspor bisa dilakukan langsung dari daerah, maka potensi penerimaan daerah dari dana bagi hasil akan lebih besar, karena ada persentase tertentu dari aktivitas ekspor yang kembali ke daerah penghasil,” jelasnya. MC Kalsel/scw

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *