Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Selatan, Thaufik Hidayat menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM), khususnya kalangan pemuda, sebagai fondasi pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikannya dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2027 di Aula Bappeda Provinsi Kalsel, Selasa (10/2/2026).
Thaufik menjelaskan, tema FKP yang berfokus pada penguatan SDM sejalan dengan misi pertama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta janji Gubernur terkait pengembangan pesantren modern.
Ia memaparkan, struktur demografi Kalimantan Selatan saat ini didominasi generasi muda. Komposisi penduduk terdiri dari Post Gen Z sebesar 11,29 persen, Gen Z 28,3 persen, Milenial 26,59 persen, Gen X 22,55 persen, Baby Boomer 10 persen, dan Pre-Boomer 1,2 persen. Sementara itu, kelompok usia pemuda 16–30 tahun mencapai 25,16 persen dari total penduduk.
“Artinya satu dari empat penduduk Kalimantan Selatan adalah pemuda. Ini merupakan potensi besar yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, dan kesiapan memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Ia mengungkapkan masih terdapat pemuda yang masuk kategori NEET (Not in Education, Employment, and Training). Rata-rata pemuda NEET di Kalimantan Selatan mencapai 21,17 persen, dengan angka tertinggi di Kabupaten Kotabaru sebesar 29,95 persen dan terendah di Kabupaten Tabalong sebesar 14,14 persen.
Meski demikian, capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Kalimantan Selatan tergolong baik, yakni mencapai 40,90 persen dan berada di atas rata-rata nasional. APK SMA sendiri tercatat sebesar 78,21 persen.
Namun, tingkat pengangguran pemuda masih menjadi perhatian, terutama di Kota Banjarmasin yang mencapai 15,43 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 13,41 persen. Secara keseluruhan, tingkat pengangguran pemuda di Kalimantan Selatan berada pada angka 10,89 persen.
Selain itu, Thaufik menambahkan, meskipun tingkat kemiskinan Kalimantan Selatan termasuk dua terendah secara nasional setelah Bali, daerah ini tetap menghadapi kerentanan ekonomi.
Hal tersebut ditandai dengan menurunnya jumlah kelas menengah sejak 2021 hingga 2024, serta melambatnya pertumbuhan sektor pertambangan yang selama ini menjadi kontributor utama perekonomian daerah.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya transformasi pembangunan ekonomi yang didukung penguatan SDM dan inovasi, sehingga generasi muda memiliki peluang kerja yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Thaufik juga memaparkan peran BRIDA Kalsel dalam mendukung pengembangan pesantren modern sebagai bagian dari implementasi janji Gubernur Kalimantan Selatan.
Ia menyampaikan riset pengembangan pesantren modern telah diselesaikan pada tahun 2025 melalui kolaborasi dengan Universitas Lambung Mangkurat, UIN Antasari, dan Universitas Islam Kalimantan.
Hasil riset menunjukkan pesantren di Kalimantan Selatan memiliki kekuatan pada tradisi diniyah dan pembinaan akhlak, namun masih memerlukan penguatan pada bidang sains dan teknologi, kewirausahaan berbasis praktik, serta pembinaan kebugaran fisik. Model pesantren modern tersebut rencananya akan diuji melalui dua kelas prototipe yang ditempatkan di SMA Banua.
“Kita ingin menghadirkan model pesantren modern yang tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga realistis untuk diterapkan, sehingga mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, fisik, dan spiritual,” pungkasnya. MC Kalsel/dam
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id









