Pemprov Kalsel Perkuat Irigasi Persawahan Hadapi Ancaman Kemarau 2026

Pemprov Kalsel Perkuat Irigasi Persawahan Hadapi Ancaman Kemarau 2026

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus memperkuat infrastruktur irigasi persawahan sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi musim kemarau panjang pada tahun 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman melalui Kepala Seksi Lahan dan Irigasi Pertanian, Muhammad Anton Ciptady, menyampaikan bahwa berbagai program pengelolaan dan pengembangan irigasi telah disiapkan, baik melalui dukungan APBN dari kementerian Pertanian maupun APBD

Menurut Anton, pada tahun-tahun sebelumnya, pengelolaan irigasi banyak difasilitasi oleh pemerintah pusat melalui program pengembangan jaringan irigasi. Untuk tahun 2026, dukungan tersebut masih berlanjut, meski pelaksanaannya kini lebih banyak ditangani oleh Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Banjarbaru.

“Alhamdulillah, tahun ini kita masih mendapatkan dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian. Untuk tingkat provinsi, kita ada kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi tersier sepanjang kurang lebih 13 kilometer,” ujar Anton di Banjarbaru, Senin (6/4/2026).

Selain itu, terdapat pula program pengembangan Survey, Investigasi, dan Desain (SID) jaringan irigasi tersier dengan cakupan lahan mencapai sekitar 4.000 hektare. Saat ini, proses penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) tengah dilakukan untuk memastikan program tepat sasaran.

Tak hanya itu, pemerintah juga mengalokasikan bantuan irigasi perpompaan sebanyak 235 unit dan irigasi perpipaan sekitar 58 unit. Namun, realisasi program tersebut masih menunggu verifikasi dan kesiapan dari pemerintah kabupaten/kota terkait CPCL.

“Alokasinya cukup besar, tapi kami masih menunggu kesiapan daerah. Ini penting agar pelaksanaan di lapangan bisa berjalan maksimal dan tepat waktu,” jelas Anton.

Untuk lokasi kegiatan pemeliharaan irigasi tersier, sejumlah daerah telah masuk dalam perencanaan, di antaranya Kabupaten Balangan, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), dan Barito Kuala (Batola).

Anton menegaskan, langkah utama dalam menghadapi musim kemarau adalah memastikan distribusi air ke lahan persawahan tetap lancar. Oleh karena itu, pemeliharaan jaringan irigasi menjadi prioritas utama saat ini.

“Kami fokus pada pemeliharaan jaringan irigasi agar distribusi air tetap optimal. Harapannya, kabupaten/kota segera menyampaikan CPCL, sehingga kegiatan bisa segera dilaksanakan dan petani tidak terdampak kekeringan,” pungkasnya.

Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan produktivitas pertanian di Kalimantan Selatan tetap terjaga meski menghadapi tantangan perubahan iklim dan potensi kemarau panjang. MC Kalsel/tgh

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id