Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera mengakui masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) profesional, khususnya pekerja sosial dan tenaga psikolog, dalam mendukung pelayanan optimal bagi lanjut usia.
Kepala PPRSLU Budi Sejahtera, Hairun Nisa, mengatakan secara kuantitas jumlah SDM di dua lokasi panti sebenarnya sudah cukup besar. Total pegawai, termasuk pejabat struktural, mencapai 96 orang. Namun, jika dilihat dari komposisi tenaga profesi, jumlah tersebut masih jauh dari ideal. Meski demikian, Hairun Nisa bersyukur PPRSLU Budi Sejahtera mendapat dukungan dari berbagai lembaga pendidikan melalui program magang. Kerja sama tersebut melibatkan siswa tingkat menengah hingga mahasiswa dari jurusan keperawatan dan kesejahteraan sosial.
“Alhamdulillah kami cukup terbantu dengan adanya mahasiswa dan siswa magang. Mereka belajar sekaligus membantu pelayanan kepada klien. Ini menjadi kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya, Banjarbaru, Senin (22/12/2025).
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bentuk simbiosis mutualisme, di mana peserta magang memperoleh pengalaman lapangan, sementara panti terbantu dalam memberikan layanan kepada para lansia.
“Semoga ke depan dapat terjalin kerja sama antara Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan melalui nota kesepahaman (MoU) guna mendukung ketersediaan tenaga perawat di panti,” tuturnya.
Namun lebih lanjut dijelaskannya secara jumlah pegawai memang sudah lumayan banyak, tapi untuk SDM profesi seperti pekerja sosial, itu masih sangat kurang. Idealnya satu pekerja sosial mendampingi lima klien, sementara kami saat ini hanya memiliki delapan pekerja sosial dengan total 180 klien.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan pendampingan terhadap klien belum bisa dilakukan secara maksimal. Selain itu, PPRSLU Budi Sejahtera juga belum memiliki tenaga psikolog, padahal aspek psikologis menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi lanjut usia.
“Kami juga belum memiliki psikolog. Padahal kebutuhan terhadap pendampingan psikologis sangat penting, terutama bagi lansia dengan kondisi tertentu,” jelasnya.
Untuk layanan keperawatan, Hairun Nisa menyampaikan pihaknya masih mengandalkan tenaga perawat melalui skema Penyedia Jasa Layanan Perorangan (PJLP) yang dikontrak setiap bulan. Peran perawat sangat krusial, khususnya pada layanan total care bagi lansia yang sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain.
“Perawat memegang peranan yang sangat penting, terutama pada layanan total care. Klien yang dilayani adalah lansia yang hanya bisa beraktivitas di tempat tidur dan membutuhkan bantuan penuh, mulai dari makan, berpakaian, hingga kebutuhan dasar lainnya,” ungkapnya. MC Kalsel/Rns
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










