Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis ekspor barang asal Kalimantan Selatan mencapai US$800,02 juta atau turun 2,58 persen dibanding nilai ekspor Januari 2026 yang sebesar US$821,22 juta. Jika dibandingkan dengan nilai ekspor Februari 2025 yang mencapai US$841,15 juta, nilai ekspor Februari 2026 turun sebesar 4,89 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Februari 2026 turun 2,87 persen dibandingkan Januari-Februari 2025.
“Ekspor terbesar Kalimantan Selatan Februari 2026 berdasarkan kode Harmonized System (HS) 2 digit disumbangkan oleh kelompok bahan bakar mineral (HS 27) dengan nilai US$638,56 juta, turun sebesar 2,48 persen dibandingkan ekspor Januari 2026 yang sebesar US$654,81 juta. Pada urutan kedua adalah kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) yang menyumbang ekspor sebesar US$106,04 juta, turun sebesar 1,5 persen dibandingkan ekspor Januari 2026 yang mencapai US$107,65 juta. Sementara itu, di urutan ketiga adalah logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) dengan nilai ekspor US$16,08 juta, turun 35,06 persen dibandingkan Januari 2026 yang mencapai US$24,76 juta,” kata Mukhamad Mukhanif, Banjarbaru, Kamis (2/4/2026).
Berdasarkan kontribusinya terhadap total ekspor Februari 2026, kelompok bahan bakar mineral (HS 27) memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 79,82 persen dan diikuti oleh kelompok lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) dengan kontribusi sebesar 13,25 persen.
“Nilai impor Kalimantan Selatan pada Februari 2026 mencapai US$125,49 juta. Nilai ini meningkat sebesar 82,82 persen jika dibandingkan dengan nilai impor Januari 2026 yang sebesar US$68,64 juta. Bila dibandingkan dengan nilai impor Februari 2025 yang mencapai US$98,95 juta, maka nilai impor Februari 2026 ini meningkat sebesar 26,82 persen,” kata Hanief.
Hanief pun menjelaskan, lima kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada Februari 2026 yang masuk ke Kalimantan Selatan adalah kelompok bahan bakar mineral (HS 27) senilai US$95,6 juta dengan kontribusi sebesar 76,18 persen; diikuti kelompok mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) senilai US$17,84 juta dengan kontribusi sebesar 14,22 persen;
kelompok kapal, perahu, dan struktur terapung (HS 89) senilai US$3,38 juta dengan kontribusi sebesar 2,69 persen; kelompok bahan kimia organik (HS 29) senilai US$1,52 juta dengan kontribusi sebesar 1,21 persen; dan kelompok Mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) senilai US$1,34 juta dengan kontribusi sebesar 1,07 persen dari total impor Februari 2026.
“Nilai total kelima komoditas terbesar tersebut adalah US$119,68 juta dengan kontribusi sebesar 95,37 persen dari total impor Februari 2026. Nilai ini meningkat sebesar 84,09 persen dibandingkan total kelimanya pada Januari 2026 yang sebesar US$65,01 juta,” tandasnya.
“Impor Kalimantan Selatan pada Februari 2026 menurut negara/wilayah/entitas tertentu asal tertinggi adalah dari Malaysia dengan nilai US$56,34 juta, meningkat sebesar 59,24 persen dibandingkan Januari 2026 yang sebesar US$35,38 juta. Kemudian diikuti oleh impor dari Singapura yang mencapai US$43,10 juta, disusul impor dari Tiongkok dengan nilai US$21,18 juta, impor dari Taiwan sebesar US$1,43 juta, dan impor dari Brunei Darussalam sebesar US$1,30 juta. Kontribusi impor dari Malaysia mencapai 44,90 persen dari total nilai impor
Kalimantan Selatan Februari 2026. Kemudian impor dari Singapura dan Tiongkok berkontribusi masing-masing sebesar 34,34 persen dan 16,88 persen. Sementara itu, impor dari Taiwan dan Brunei Darussalam berkontribusi masing-masing sebesar 1,14 persen dan 1,03 persen,” ujar Hanief MC Kalsel/scw
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










