Hadapi Krisis Air Pemadaman Karhutla, Pemerintah Siapkan Sumur Bor hingga 50 Meter

Hadapi Krisis Air Pemadaman Karhutla, Pemerintah Siapkan Sumur Bor hingga 50 Meter

Keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menyiapkan pembangunan sejumlah sumur bor dengan kedalaman mencapai 40 hingga 50 meter.

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengatakan, penyediaan sumber air menjadi kebutuhan penting dalam proses pemadaman karhutla, terutama untuk memastikan lahan yang telah berhasil dipadamkan tetap dalam kondisi basah.

“Sekarang semua bekerja keras, berkolaborasi masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah, BNPB, kementerian dan lembaga, TNI, Polri. Memastikan supaya api itu mati. Setelah mati dipastikan harus tetap basah,” ujarnya, Banjarbaru, Senin (24/8/2026).

Menurut Jumhur, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa petugas kerap menghadapi kesulitan mendapatkan sumber air untuk mendukung proses pemadaman dan pembasahan lahan.

Karena itu, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk membangun sejumlah sumur bor sebagai sumber air alternatif di lokasi yang membutuhkan.

“Kita insya Allah akan membangun beberapa sumber bor ke bawah, mungkin sampai 40-50 meter ke bawah dan itu adalah sumber air. Kita sudah mengalokasikan anggaran untuk itu karena memang faktanya harus ada sumber bor,” katanya.

Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pembasahan lahan setelah api berhasil dipadamkan juga menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya kembali titik api.

Selain penguatan penanganan di lapangan, pemerintah juga melibatkan sektor kesehatan untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Jumhur menyebut Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan dan puskesmas turut bergerak memastikan masyarakat tidak mengalami dampak kesehatan yang serius akibat paparan asap.

Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat mitigasi agar luasan karhutla tahun ini tidak mendekati angka yang terjadi pada 2023.

Berdasarkan data yang disampaikan, luas lahan terbakar pada 2023 mencapai sekitar 190 ribu hektare, sedangkan data sementara 2026 berada di kisaran 8 ribu hektare.

“Kita berharap tidak sampai atau jauh dari angka itu. Artinya ada keberhasilan kerja-kerja mitigasi sebelum bencana,” pungkasnya. MC Kalsel/Rns

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id