Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kalimantan Selatan hingga 30 April 2026 menunjukkan perkembangan yang positif dalam mendukung penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan, total penyaluran KUR di Kalimantan Selatan telah mencapai Rp1,81 triliun atau 35,03 persen dari target Rp5,15 triliun.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo mengatakan, penyaluran tersebut telah menjangkau 24.811 debitur di berbagai sektor usaha produktif.
“Penyaluran KUR terus menjadi instrumen penting dalam memperkuat akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Hingga April 2026, realisasinya menunjukkan tren yang cukup baik dan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Catur, Banjarmasin, Jumat (29/5/2026).
Dari total penyaluran tersebut, KUR konvensional mendominasi sebesar Rp1,73 triliun atau 96,11 persen, sedangkan KUR syariah mencapai Rp70,24 miliar atau 3,89 persen.
Secara nasional, Kalimantan Selatan berada pada peringkat ke-17 dalam realisasi penyaluran KUR, serta menempati posisi kedua tertinggi di regional Kalimantan.
Sektor pertanian menjadi penerima KUR terbesar dengan nilai penyaluran mencapai Rp622,50 miliar atau 34,49 persen kepada 10.893 debitur. Sementara berdasarkan skema pembiayaan, skema mikro mendominasi dengan total penyaluran sebesar Rp1,14 triliun kepada 22.325 debitur.
Menurut Catur, dominasi sektor pertanian menunjukkan bahwa dukungan pembiayaan pemerintah masih sangat fokus pada penguatan sektor produktif dan ketahanan ekonomi masyarakat.
“KUR diharapkan dapat memperkuat kapasitas usaha masyarakat, khususnya di sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Kalimantan Selatan,” katanya.
Secara wilayah, Kota Banjarmasin mencatat penyaluran KUR tertinggi sebesar Rp318,75 miliar kepada 3.492 debitur. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Tanah Bumbu sebesar Rp243,21 miliar kepada 2.329 debitur dan Kabupaten Banjar sebesar Rp188,70 miliar kepada 2.969 debitur.
Dari sisi lembaga penyalur, BRI menjadi bank dengan penyaluran KUR terbesar di Kalimantan Selatan dengan capaian Rp1,17 triliun kepada 21.358 debitur. Disusul Bank Mandiri sebesar Rp195,65 miliar kepada 1.596 debitur dan BNI sebesar Rp186,21 miliar kepada 564 debitur.
Selain KUR, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Kalimantan Selatan juga terus berjalan sebagai bagian dari penguatan inklusi keuangan bagi masyarakat kecil.
Hingga akhir April 2026, total penyaluran pembiayaan UMi tercatat sebesar Rp22,76 miliar kepada 4.220 debitur. Penyaluran UMi didominasi skema syariah sebesar Rp19,80 miliar atau 86,98 persen, sedangkan pembiayaan konvensional sebesar Rp2,96 miliar.
Secara nasional, Kalimantan Selatan berada di posisi ke-28 dari 34 provinsi dalam realisasi penyaluran UMi dan menempati posisi ketiga di regional Kalimantan.
Kota Banjarmasin kembali menjadi daerah dengan penyaluran tertinggi sebesar Rp4,66 miliar kepada 804 debitur. Disusul Kabupaten Banjar sebesar Rp2,92 miliar kepada 537 debitur dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sebesar Rp2,49 miliar kepada 437 debitur.
Sektor perdagangan menjadi penerima pembiayaan UMi terbesar dengan porsi mencapai 98,32 persen. Berdasarkan skema penyaluran, pembiayaan kelompok mendominasi dengan nilai Rp19,80 miliar.
Sementara itu, PNM menjadi lembaga penyalur UMi terbesar dengan total penyaluran Rp19,80 miliar kepada 3.638 debitur.
Catur menegaskan, Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat fungsi monitoring dan evaluasi bersama seluruh mitra penyalur agar dukungan pembiayaan bagi UMKM dapat tepat sasaran.
“Kami terus mendorong kolaborasi dengan seluruh mitra penyalur agar akses pembiayaan semakin merata di seluruh kabupaten dan kota. Langkah ini penting untuk memperkuat ekonomi inklusif sekaligus mempercepat pertumbuhan sektor usaha masyarakat,” pungkasnya. MC Kalsel/Rns
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










