Desa Awang Bangkal di Kabupaten Banjar Raih Juara Regional, Dinas PMD Kalsel Apresiasi Penurunan Stunting

Desa Awang Bangkal di Kabupaten Banjar Raih Juara Regional, Dinas PMD Kalsel Apresiasi Penurunan Stunting

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menyampaikan apresiasi atas keberhasilan desa-desa di Kabupaten Banjar dalam menurunkan prevalensi stunting hingga meraih penghargaan tingkat regional dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.

Kepala Dinas PMD Kalsel, Iwan Ristianto melalui Kepala Seksi Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Eko Suhermanto, mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut menjadi bukti nyata keseriusan desa dalam menangani persoalan stunting.

“Dari Kementerian Desa ada apresiasi terhadap desa yang berhasil melakukan penurunan prevalensi stunting. Tahun 2024, Desa Awang Bangkal Barat di Kabupaten Banjar meraih Juara 1 Regional 2. Kemudian di 2025, Desa Lok Gabang, juga di Kabupaten Banjar, kembali meraih Juara 1 Regional 2,” ujar Eko di Banjarbaru, Kamis  (5/3/2026).

Menurutnya, capaian dua tahun berturut-turut tersebut menunjukkan bahwa desa-desa di Kalimantan Selatan mampu bersaing dengan daerah lain di Regional 2 yang mencakup sejumlah provinsi di Kalimantan dan wilayah lainnya.

“Artinya kita tidak kalah bersaing. Ini menjadi motivasi dan optimisme bagi kita untuk terus menurunkan angka stunting pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari berbagai inovasi yang dijalankan desa secara konsisten dan berorientasi pada hasil. Beberapa inovasi yang diterapkan di antaranya

Kepiting Kebun PKK untuk PMT Tangkal Stunting, pemanfaatan hasil kebun untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Kolam Kalim (Kolam Ikan Cegah Stunting) sebagai sumber protein hewani bagi balita.

Sepak Kalim (Sertifikat Penghargaan Cegah Stunting) sebagai bentuk apresiasi bagi keluarga peduli gizi. Gula Habang, inovasi olahan pangan lokal bergizi. Optimalisasi layanan posyandu dengan gerakan hadir, ukur, dan timbang secara rutin.

Polita Desa (Pola Libatkan Orang Tua Anak Stunting Desa) yang mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Eko menegaskan, inovasi yang dijalankan tidak harus selalu baru setiap tahun, melainkan harus memiliki dampak nyata terhadap penurunan angka stunting.

“Bukan berarti setiap tahun harus menciptakan inovasi baru. Yang harus kita lihat adalah seberapa besar efek inovasi tersebut terhadap penurunan stunting. Jangan sampai banyak inovasi, tetapi tidak memiliki nilai dan dampak yang jelas,” tegasnya.

Terkait kemungkinan adanya penilaian Desa Berkinerja Baik tahun 2026, pihaknya masih menunggu informasi resmi dari Kementerian Desa. Biasanya, informasi resmi diterima pada bulan Maret atau April.

“Untuk saat ini memang belum ada kepastian, tetapi sinyal-sinyal penilaian sudah ada. Kami tetap optimistis desa-desa di Kalsel mampu menunjukkan kinerja terbaik,” pungkasnya.

Dengan capaian membanggakan tersebut, PMD Kalsel optimistis upaya percepatan penurunan stunting di Banua akan terus menunjukkan tren positif, sejalan dengan komitmen pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. MC Kalsel/tgh

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *