
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus mendorong penguatan ekonomi berbasis peternakan rakyat melalui inovasi Sistem Integrasi Ternak Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering atau SITI HAWA LARI. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem agribisnis itik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, Suparmi, menegaskan bahwa pengembangan itik, khususnya itik alabio sebagai plasma nutfah khas daerah, memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Melalui program SITI HAWA LARI, kami tidak hanya meningkatkan populasi dan produksi itik, tetapi juga membangun sistem usaha peternakan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. Ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru di pedesaan,” ujar Suparmi di Banjarbaru, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam program ini mengedepankan model closed loop dengan memanfaatkan sumber daya pakan lokal di lahan rawa maupun lahan kering, serta melibatkan kelompok peternak secara swadaya melalui kemitraan terpadu.
Hingga saat ini, implementasi program SITI HAWA LARI telah berkembang pesat dengan terbentuknya 803 klaster budidaya itik, dengan total populasi mencapai lebih dari 3,1 juta ekor. Produksi yang dihasilkan pun cukup signifikan, yakni 2.098 ton daging itik dan lebih dari 25 ribu ton telur itik.
“Capaian ini menunjukkan bahwa program ini mampu memberikan nilai tambah bagi peternak, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperluas lapangan kerja, termasuk bagi generasi muda yang mulai tertarik di sektor peternakan,” tambahnya.
Lebih jauh, Suparmi menyebut bahwa keberadaan program ini juga berperan dalam menjaga kelestarian plasma nutfah lokal serta mendukung stabilitas harga pangan, sehingga turut berkontribusi dalam pengendalian inflasi daerah.
Ke depan, Pemprov Kalsel menargetkan pengembangan hingga 1.000 klaster serta mendorong keterlibatan sektor swasta melalui skema kemitraan dan tanggung jawab sosial lingkungan (CSR), termasuk dari sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan.
“Kami ingin menjadikan SITI HAWA LARI sebagai model pengembangan agribisnis itik yang modern, inklusif, dan berkelanjutan, dengan dukungan multipihak sesuai semangat ‘Bekerja Bersama Merangkul Semua’,” tutup Suparmi.
Melalui inovasi ini, Kalimantan Selatan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penopang ketahanan pangan sekaligus pusat pengembangan komoditas unggulan berbasis kearifan lokal di Indonesia. MC Kalsel/scw
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










