





Lomba Edukatif Kultural Mading Tiga Dimensi (3D) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) resmi berakhir.
Kegiatan tersebut diikuti 16 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB yang menampilkan berbagai karya mading 3D bertema sejarah revolusi fisik di Kalimantan Selatan.
Kepala Disdikbud Kalsel Abdul Rahim melalui Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman, Arry Risfansyah, menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kreativitas para peserta selama mengikuti lomba.
“Alhamdulillah, lomba tahun ini telah terlaksana sesuai dengan capaian yang kita inginkan. Dari 16 sekolah yang mengikuti, baik SMA, SMK, maupun SLB, semuanya telah memberikan perwakilan,” ujar Arry di Banjarmasin, Kamis (22/7/2026).
Menurut Arry, antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari keaktifan peserta saat mengikuti pengarahan dan berdiskusi dengan dewan juri mengenai sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan.
“Rata-rata peserta tahun ini tidak mengalami kesulitan berarti. Mereka justru aktif bertanya terkait sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan,” katanya.
Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Juri Nomor 122/Juri/CBM/Disdikbud/2026, SMAN 7 Banjarmasin berhasil meraih Juara I dengan nilai 800. Juara II diraih SMA Frater Don Bosco Banjarmasin dengan nilai 750, sedangkan Juara III diraih SMAN 2 Banjarmasin dengan nilai 660.
Sementara itu, Juara Harapan I diraih SLBN 3 Banjarmasin dengan nilai 495, Juara Harapan II diraih SMAN 1 Mandastana dengan nilai 480, dan Juara Harapan III diraih SMAIT Ukhuwah Banjarmasin dengan nilai 470.
Arry berharap karya mading 3D yang dihasilkan peserta selama tiga hari kompetisi tidak berhenti hanya sebagai pajangan saja. Menurutnya, karya tersebut dapat dibawa kembali ke sekolah untuk menjadi media pembelajaran dan sarana berbagi pengetahuan sejarah kepada siswa lainnya.
“Kita mengharapkan kreativitas mereka dalam mengenal sejarah tidak berhenti sampai di sini saja. Karya mading 3 dimensi yang mereka buat juga bisa dibawa ke sekolah untuk disampaikan kepada teman-teman yang lain,” ungkapnya.
Ia berharap langkah tersebut dapat memperluas edukasi mengenai sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan kepada generasi muda di lingkungan sekolah masing-masing.
Dalam proses penilaian, panitia menghadirkan tiga dewan juri, yakni sejarawan Wajidi, jurnalis dan komunikator Budi Kurniawan, serta M. Syahril M. Noor dari bidang artistik.
M. Syahril M. Noor menilai karya para peserta secara umum menunjukkan kreativitas dan dinamika yang baik, meskipun sebagian peserta masih menghadapi kendala teknis.
“Ada peserta yang sudah memahami sejarah dengan baik, tetapi ada juga yang masih mengalami kesulitan karena baru pertama kali mengikuti lomba,” jelasnya.
Sementara itu, sejarawan Wajidi menilai sejumlah karya masih perlu diperbaiki agar lebih sesuai dengan konteks sejarah dan zaman yang diangkat. Beberapa di antaranya dinilai menggunakan foto yang kurang relevan atau menyajikan alur cerita yang belum sepenuhnya sesuai, baik dari sisi isi mading maupun presentasi.
Menurutnya, penilaian tidak hanya berfokus pada aspek sejarah, tetapi juga mencakup kreativitas, keunikan, dan pesan yang ingin disampaikan. Mading 3D yang interaktif, spektakuler, dan unik menjadi nilai tambah dalam penilaian.
“Kendati demikian, unsur gerak, suara, atau visual warna-warni yang ditampilkan tetap harus disesuaikan dengan konteks masa lalu agar tidak menyimpang dari nilai sejarah yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Juri lainnya, Budi Kurniawan, mengapresiasi upaya para peserta dalam menyampaikan sejarah melalui media mading tiga dimensi.
P“Menyampaikan sejarah lewat mading tiga dimensi tidak mudah. Cerita sejarah itu kompleks, sementara medianya terbatas. Dibutuhkan kedetailan dan kreativitas. Namun, ini merupakan langkah luar biasa karena anak muda belajar berkomunikasi dan menyampaikan sejarah dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami,” tuturnya. MC Kalsel/Jml
sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id










